top of page

Kisah di Balik Pangeran Kecil

Buku fiksi untuk anak-anak. Diterjemahkan ke lebih dari 600 bahasa dan dialek di seluruh dunia. Menempatkannya di posisi kedua sebagai buku paling banyak diterjemahkan setelah Alkitab.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 jam yang lalu
  • 6 menit membaca

SEORANG pilot terdampar di tengah Gurun Sahara, jauh dari pemukiman penduduk. Karena persediaan air minum yang dibawanya terbatas, dia berusaha memperbaiki pesawatnya sesegera mungkin. Saat itulah dia bertemu seorang anak laki-laki yang disebutnya sebagai Pangeran Kecil. Sembari memperbaiki pesawatnya, sang pilot mendengarkan cerita Pangeran Kecil yang rupanya berasal dari sebuah asteroid bernama B612.


Di planet ini, terdapat gunung berapi, pohon baobab, dan setangkai bunga mawar. Suatu hari, Pangeran Kecil memutuskan untuk meninggalkan planetnya dan berkelana. Ia mengunjungi enam planet, yang masing-masing dihuni satu orang dewasa yang mencerminkan sifat-sifat manusia yang unik. Ada seorang raja yang gemar memberikan perintah. Ada pula seorang pria sombong yang ingin selalu dipuji orang lain padahal tinggal sendirian di planet itu.


Setelah melewati keenam planet tersebut, Pangeran Kecil sampai di Bumi. Ia bertemu dengan seekor ular, sekumpulan semak mawar, dan seekor rubah yang akhirnya menjadi temannya. Dari rubah, Pangeran Kecil belajar bahwa hal-hal penting hanya bisa dilihat oleh hati, bukan dengan mata.


Demikianlah cuplikan novela The Little Prince atau Pangeran Kecil karya Antoine de Saint-Exupéry, penulis dan pilot Angkatan Udara Prancis. Bahasanya sederhana dan dilengkapi ilustrasi-ilustrasi cat air yang digambar oleh penulisnya sendiri. Buku ini memang ditulis untuk pembaca anak-anak. Namun, di balik bahasa yang mudah dipahami, Pangeran Kecil menyimpan banyak pesan tersirat yang membuat orang dewasa ikut merenung. Tema-tema yang diangkat seperti cinta, persahabatan, dan arti kehidupan terasa begitu dekat baik bagi pembaca anak-anak maupun dewasa.


Sejak pertama kali terbit pada April 1943 hingga November 2024, The Little Prince telah diterjemahkan ke dalam 600 bahasa dan dialek, termasuk bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, dan Bali. Ini menjadikan The Little Prince sebagai buku yang paling banyak diterjemahkan kedua di dunia setelah Alkitab. The Little Prince juga tercatat sebagai salah satu buku terlaris di dunia, dengan penjualan lebih dari 140 juta kopi.


Antoine de Saint-Exupéry di Toulouse, Prancis, 1933. (Wikimedia Commons)
Antoine de Saint-Exupéry di Toulouse, Prancis, 1933. (Wikimedia Commons)

Pilot Legendaris

Antoine de Saint-Exupéry lahir di Lyon, Prancis, pada 29 Juni 1900 dari sebuah keluarga bangsawan. Saint-Exupéry kecil hidup berkecukupan. Dia bahkan menaiki pesawat saat berusia 12 tahun, sesuatu yang masih jarang dan sulit dilakukan oleh orang biasa saat itu. Saint-Exupéry, yang didukung oleh keluarganya, mencoba bergabung dengan Angkatan Laut Prancis. Sayangnya, dua kali gagal lolos ujian masuk di akademi angkatan laut École Navale.


Setelah kegagalan itu, Saint-Exupéry berubah haluan. Dia belajar ilmu arsitektur di École des Beaux-Arts, meski hanya bertahan sekitar 15 bulan. Pada 1921, dia akhirnya masuk wajib militer dan ditugaskan di resimen kavaleri. Dia kemudian mengambil pelajaran terbang privat dan pindah tugas ke Angkatan Udara Prancis. Saat latihan, dia pernah menghadapi situasi serius karena pesawatnya terbakar. Beruntung, dia berhasil mendaratkan pesawatnya dan selamat.


Reaksi pertamanya terhadap penerbangan kemudian ia gambarkan dalam sebuah novel yang belum diterbitkan, L’Evasion de Jacques Bernis, yang cuplikannya muncul pada tahun 1926 di majalah Navire D’Argent.


“Di sana-sini dia sudah menunjukkan bakatnya dalam bahasa yang ringkas dan hidup, dalam metafora yang penuh makna dan menggugah,” Richard Rumbold dan Lady Margaret Stewart dalam The Winged Life: A Portrait of Antoine de Saint-Exupery, Poet and Airman.


Namun itu bukan kejadian yang terakhir. Pada 1923, Saint-Exupery mengalami kecelakaan serius. Saat melakukan akrobatik udara di atas kerumunan orang yang menghadiri pesta di Versailles, mesin pesawat mati kehabisan bahan bakar. Pesawatnya jatuh. Dia dibawa ke rumah sakit dengan tengkorak yang retak.


Sempat berhenti terbang selama beberapa tahun dan bekerja kantoran, Saint-Exupéry kembali menjadi pilot dan bekerja di Aéropostale, perusahaan maskapai pos udara Prancis, pada 1926. Tugasnya mengirimkan surat via udara untuk rute Toulouse-Dakar. Pekerjaan ini membuat Saint-Exupéry menjadi salah satu pilot perintis yang turut berperan dalam membentuk rute-rute pos udara internasional dalam sejarah awal penerbangan Prancis.


Pada 1929, saat bertugas di pos terpencil Cape Juby, Maroko, Saint-Exupéry menulis novel pertamanya, Courrier Sud. Didasarkan pengalaman pribadinya, novel ini mengisahkan perjuangan, kesepian, dan romansa seorang pilot bernama Jacques Bernis yang bertugas menerbangkan surat melintasi gurun Sahara menuju Afrika Barat.

“Novel itu tidak ditulis tanpa perjuangan. Di awal karier sastranya, dia merasa sangat sulit untuk menerjemahkan pengalaman emosional batin ke dalam narasi objektif,” catat Richard Rumbold dan Lady Margaret Stewart.


Karier Saint-Exupéry merangkak naik ketika dia ditunjuk sebagai Direktur Operasi Aeroposta Argentina, anak perusahaan Aéropostale, di Buenos Aires pada 1929. Kendati demikian dia tak berhenti mengudara.


Pengalamannya mengelola perusahaan menginspirasinya untuk menulis novel kedua, Vol de nuit, yang terbit tahun 1931. Buku ini sukses besar secara internasional, memenangi penghargaan sastra bergengsi Prancis Prix Femina, dan diadaptasi menjadi film Hollywood pada 1933. Di Indonesia, Vol de nuit diterbitkan dalam bentuk novel grafis (komik) dengan judul Night Flight tahun 2010.


Selama menjadi pilot, Saint-Exupéry melintasi rute-rute berbahaya dan beberapa kali mengalami kecelakaan. Bahkan dia sempat terdampar di Gurun Sahara pada Desember 1935 saat hendak terbang dari Paris ke Saigon (sekarang kota Ho Chi Minh). Saint-Exupéry menuangkan pengalaman bertahan hidup dan perjuangannya ke dalam memoar Terre des hommes (versi bahasa Inggris: Wind, Sand, and Stars). Buku ini diterbitkan di Prancis pada Februari 1939 dan meraih kesuksesan. Dua bulan kemudian, buku tersebut dianugerahi ‘Grand Prix du Roman’ dari Academie Française.


Versi terjemahan Le Petit Prince dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Bali.


Rindu Kampung Halaman

Saat Prancis jatuh ke tangan Jerman pada 1940, Saint-Exupéry bersama istrinya, Consuelo Suncin, pindah ke New York, Amerika Serikat. Selama tinggal di Amerika Serikat inilah dia menyelesaikan tiga karya.


Saint-Exupéry menulis memoar perang sekaligus filosofis Pilote de guerre (Flight to Arras). Buku ini berisi pengalamannya sebagai pilot pesawat pengintai selama Perang Dunia II sekaligus renungan mendalam mengenai kejatuhan Prancis.


Setelah penerbitan Flight to Arras, Saint-Exupéry kembali menjadi selebritas sastra di Amerika. Selama periode ini, dia merindukan kampung halamannya. Ini terlihat jelas dalam dua buku kecil tapi penting yang ditulisnya menjelang akhir masa tinggalnya di Amerika: Letter to a Hostage dan The Little Prince.


Letter to a Hostage, terbit Februari 1943, ditujukan kepada teman lamanya, Leon Werth, yang masih tinggal di Prancis. The Little Prince, terbit dua bulan kemudian, menjadi mahakaryanya yang meraih kesuksesan.


Saint-Exupéry mulai menulis sekaligus menggambar The Little Prince di musim panas tahun 1942 dan menyelesaikan novela tersebut di bulan Oktober pada tahun yang sama. Disebutkan Stacy Schiff dalam Saint-Exupéry: A Biography, Saint-Exupéry menghabiskan malam-malam yang panjang untuk menulis. “Energinya untuk menulis didapatkan dari kopi, soda, dan rokok, yang meninggalkan banyak bekas di naskah yang ditulisnya.”


Menurut Richard Rumbold dan Lady Margaret Stewart, The Little Prince diceritakan dalam bentuk cerita filosofis atau “conte” alegoris serupa Candide karya Voltaire, meskipun, seperti Gulliver's Travels karya Jonathan Swift dapat dibaca sebagai cerita anak-anak.


“Alegori ini, jelas, sebagian merupakan serangan terhadap apa yang paling tidak disukainya dalam gaya hidup Amerika,” catat Richard Rumbold dan Lady Margaret Stewart. “Pangeran kecil, tentu saja, sebagian besar adalah Saint-Exupery sendiri....”


Penerbit merilis buku ini secara bersamaan dalam dua versi: edisi terjemahan bahasa Inggris (The Little Prince) dan edisi bahasa asli Prancis (Le Petit Prince). Sayangnya, Saint-Exupéry tidak sempat menyaksikan kesuksesan besar bukunya di tanah airnya sendiri.


Kendati usianya telah melampaui batas maksimum bagi pilot pesawat tempur, Saint-Exupéry kembali bergabung dengan Angkatan Udara Prancis pada 1943 saat Perang Dunia II bergejolak.


Pada 31 Juli 1944, Saint-Exupéry menjalankan misi yang mengharuskannya melakukan pengintaian di ketinggian tinggi yang sangat berbahaya di Corsica, sebuah pulau di Laut Mediterania. Nahas, Saint-Exupéry hilang bersama pesawatnya. Puing-puing pesawatnya baru ditemukan hampir 60 tahun kemudian pada 2000 di dekat Marseille. Gelang bertuliskan namanya ditemukan oleh nelayan pada 1998 di sekitar perairan tersebut. Tapi jenazah Antoine tak pernah ditemukan hingga hari ini.


Banyak teori dan asumsi yang mengelilingi kematian Saint-Exupéry yang misterius. Yang paling banyak meyakini bahwa pesawat Saint-Exupéry ditembak oleh tentara Jerman. Sebagian kecil orang berteori bahwa Saint-Exupéry sengaja menjatuhkan pesawatnya ke laut, karena kematiannya telah “diprediksi” dan memiliki kemiripan dengan tulisannya dalam Pangeran Kecil.


Di planetnya yang berukuran sangat kecil, Pangeran Kecil bisa melihat matahari terbenam sebanyak 44 kali dalam sehari. Di akhir cerita, Pangeran Kecil yang hendak kembali ke planetnya tiba-tiba menghilang. Secara kebetulan, Saint-Exupéry juga “menghilang” di usia 44 tahun.


Sepeninggalannya, karyanya Citadelle (The Wisdom of the Sands) diterbitkan secara anumerta tahun 1948. Buku ini berisi kumpulan esai dan refleksi mendalam yang dinarasikan oleh seorang pangeran atau raja padang pasir tentang makna kehidupan, kemanusiaan, cinta, dan spiritualitas.


Selain meninggalkan karya-karya monumental yang terus menjadi perbincangan hingga hari ini, Saint-Exupéry juga dianggap sebagai pahlawan karena gugur saat berjuang untuk negaranya pada Perang Dunia II. Wajahnya bahkan pernah muncul di uang kertas 50 franc yang beredar dari tahun 1993 hingga 2002.


Pada tahun 1975, sebuah asteroid diberi nama Saint-Exupéry untuk menghormati penulis dan pilot yang namanya telah dikenal di seluruh dunia tersebut.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
In his novels, Motinggo Boesje weaves in elements of sexuality and eroticism that captivated readers. Toward the end of his writing career, he changed his path to serious literature.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Setelah pensiun, Sudiro mencurahkan waktunya untuk menulis dan berkegiatan sosial. Sifat humoris Sudiro menurun ke salah satu cucunya, Tora.
bg-gray.jpg
Banyak warisan Sudiro di ibukota kita nikmati sampai hari ini. Dari HUT DKI, tata kota, hingga perfilman, semua diurusinya.
Buku fiksi untuk anak-anak. Diterjemahkan ke lebih dari 600 bahasa dan dialek di seluruh dunia. Menempatkannya di posisi kedua sebagai buku paling banyak diterjemahkan setelah Alkitab.
Buku fiksi untuk anak-anak. Diterjemahkan ke lebih dari 600 bahasa dan dialek di seluruh dunia. Menempatkannya di posisi kedua sebagai buku paling banyak diterjemahkan setelah Alkitab.
Iran mengenal sepakbola lewat senjata dan industri minyak. Sejak 1920-an sudah ada pemain Iran di Eropa. Kini langganan tampil Piala Dunia.
Iran mengenal sepakbola lewat senjata dan industri minyak. Sejak 1920-an sudah ada pemain Iran di Eropa. Kini langganan tampil Piala Dunia.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Kapal selam Jepang karam setelah mendapat serangan mendadak dari kapal Amerika Serikat. Legenda menyebut awak kapal Amerika menyerang awak kapal selam Jepang dengan kentang.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
Intelektualitas Agus Widjojo sudah terlihat sejak menjadi taruna Akabri. Dia dikenal sebagai jenderal reformis yang mendukung reformasi TNI dan supremasi sipil.
Sepakbola di Kanada diperkenalkan para imigran Skotlandia dan Irlandia. Tim dari Kanada pernah menyabet medali emas sepakbola Olimpiade.
Sepakbola di Kanada diperkenalkan para imigran Skotlandia dan Irlandia. Tim dari Kanada pernah menyabet medali emas sepakbola Olimpiade.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
Berbisnis sejak jadi tentara, M.F. Lichtendahl kerap tersangkut tindakan ilegal.
transparant.png
bottom of page