top of page

Cerita di Balik Lukisan Dramatis karya Pelukis Inggris

Lukisan ini terinspirasi dari puisi berdasarkan kisah nyata. Tentang kesetiaan seekor anjing menjaga jasad tuannya, seorang pelukis muda, selama tiga bulan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan Attachment (1929) karya Edwin Henry Landseer. (Saint Louis Art Museum).

  • 1 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

LUKISAN tidak hanya menampilkan visual yang memanjakan mata, tetapi juga menyimpan beragam cerita yang menyentuh hati. Seperti lukisan Attachment karya Edwin Henry Landseer tahun 1829, yang tersimpan di Saint Louis Art Museum, Missouri, Amerika Serikat.


Lukisan Attachment menggambarkan seorang pria tergeletak di antara bebatuan pegunungan, dan di sampingnya seekor anjing sedang menggaruk bagian dada pria tersebut, seolah ingin tahu apakah tuannya sedang tertidur atau telah tiada. Lukisan ini dianggap mahakarya Landseer yang menjadi contoh utama seni Romantisisme yang mengedepankan individualisme, imajinasi, dan ekspresi emosional mendalam.


Lukisan itu terinspirasi dari puisi Walter Scott berjudul Helvellyn. Penyair Skotlandia itu mengisahkan kematian seniman muda dan kesetiaan anjingnya menjaga jasad sang tuan selama tiga bulan. Kisah tragis ini benar terjadi di dunia nyata. Scott mendengar ceritanya ketika mendaki Helvellyn bersama penyair William Wordsworth dan ahli kimia Sir Humphry Davy.


“Wordsworth menceritakan kepada Walter Scott insiden yang terjadi di Helvellyn –penjagaan selama tiga bulan yang dilakukan anjing terrier bernama Foxie di samping jenazah tuannya, Charles Gough– ketika kedua penyair itu, ditemani Humphry Davy, berjalan bersama di Helvellyn pada 14 Agustus 1805, kurang dari sebulan setelah penemuan jenazah Gough. Scott menulis puisi berjudul Helvellyn untuk memperingati insiden tersebut, sementara Edwin Landseer mengambil tema yang sama untuk lukisannya, Attachment,” tulis James P. Carson dalam “Anthropomorphism, Personification, and Humanization in William Wordsworth’s Dog Poems,” termuat di Reading Literary Animals: Medieval to Modern.


Gough dikenal sebagai pelukis cat air yang mengabadikan keindahan lembah-lembah pegunungan Wales, air terjun, dan hutan, ke atas kanvas. Menurut Peter Conradi dalam A Dictionary of Interesting and Important Dogs, dia pernah dikontrak oleh seniman lokal untuk menyalin gambar. Meski begitu, pelukis berusia 20 tahun itu tampaknya lebih terkenal karena kematiannya daripada pencapaiannya semasa hidup.


Setelah kematiannya yang tragis, Gough dipuja sebagai martir aliran Romantisisme. Sedangkan anjing peliharaannya, Foxie, dihormati karena kesetiannya kepada tuannya yang telah meninggal.


Seniman muda itu memulai pendakian pada April 1805. Kegemarannya melukis panorama alam menjadi faktor yang membuatnya mendaki Helvellyn. Pria penyendiri dan melankolis itu memilih jalur Striding Edge, salah satu jalur pendakian punggung gunung paling terkenal, memusingkan, dan berbahaya.


“Namun Gough dikenal sebagai sosok yang suka mengambil risiko besar... Hal ini mungkin membantu menjelaskan mengapa dia mencoba pendakian berbahaya ke Helvellyn sendirian, tanpa pemandu,” tulis Conradi.


Sementara itu, seorang sukarelawan setuju untuk menemani Gough, tetapi pada hari pendakian dia mengikuti kegiatan militer karena Inggris sedang berperang dengan Prancis dalam Pertempuran Trafalgar tahun 1805. Akibatnya, pelukis muda itu berangkat sendirian ditemani anjing peliharaannya, yang menurut sebagian orang, seekor spaniel sedangkan yang lain menyebut Irish terrier.


Tiga bulan setelah Gough memulai pendakian, seorang penggembala mendengar gonggongan anjing di dekat Red Tarn. Di dekat anjing tersebut terdapat pakaian dan tulang belulang.


Penggembala itu segera berlari mencari bantuan. Dia bersama beberapa orang yang sedang mendaki, mengumpulkan sisa-sisa tulang dan beberapa barang seperti peralatan memancing, topi yang terbelah dua, jam tangan, satu pensil perak, dua kaca Claude, dan cermin saku yang banyak digunakan pada masa kejayaan Romantisisme untuk membingkai pemandangan yang indah.


Di situlah identitas Gough dapat diketahui, dan berdasarkan keadaan di lokasi kejadian, disimpulkan pelukis muda itu terjatuh dari punggung gunung yang berbahaya dan tewas akibat luka di kepala.


“Di tengah kabut di gunung dekat Red Tarn di bawah Striding Edge, Gough tampaknya terpeselet dan jatuh hingga tewas. Jenazahnya baru ditemukan pada 20 Juli, ketika seorang gembala bernama George Harrison atau mungkin Willy Harrison, yang mendaki bukit-bukit tinggi pada musim menggembala domba, mendengar gonggongan seekor anjing. Di dekat sana, Harrison menemukan jenazah Gough yang tak berkepala, yang telah menjadi kerangka,” tulis Carson.


Foxie berada di sana bersama anak anjing yang baru saja dilahirkannya di semak-semak dekat lokasi jatuhnya Gough. Foxie diduga hamil saat terjadi kecelakaan Gough. Kondisi anak anjing itu sangat memprihatinkan. Tubuhnya lemah dan mati tak lama setelah ditemukan.


Penemuan jenazah Gough menjadi buah bibir di masyarakat. Kesetiaan Foxie menjadi topik utama. Berbagai surat kabar memberitakannya. Menurut Carson, meski sebagian besar laporan menyebutkan anjing peliharaan Gough nyaris kelaparan, ada satu surat kabar yang menggambarkan anjing tersebut “sangat gemuk”. Inilah yang memicu perdebatan di masyarakat.


“Sebuah laporan di Carlisle Journal menuduh terrier telah ‘merobek kain-kain...dari tubuhnya dan memakannya hingga menjadi kerangka’. Namun, pernyataan ini ditentang oleh mereka yang membela ‘kehormatan dan kesetiaan sahabat berkaki empat’ dengan menyalahkan burung pemakan bangkai, khususnya gagak. Pembelaan yang berfokus pada narasi tentang kebajikan anjing mendorong pembangunan plakat peringatan untuk anjing terrier itu di Helvellyn pada Juni 1891,” tulis Carson.


Terlepas dari bayang-bayang kanibalisme dalam penemuan jenazah Gough, kisah kematian pelukis muda dan kesetiaan anjing peliharaannya menjadi topik menarik yang terus diromantisasi, seperti dalam puisi karya Scott maupun lukisan Attachment karya Landseer. Keduanya menyampaikan kesan keagungan alam liar yang diwarnai dengan kenyataan suram tentang kematian, dan sebagai kontras dari itu semua, cinta dan kesetiaan seekor anjing kepada tuannya yang tak pernah pudar.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dia berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.
bg-gray.jpg
Taklik talak dalam buku nikah pada mulanya tak digubris. Sempat dituduh hendak mengubah hukum Islam.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah menjadi menteri perempuan pertama dalam sejarah Indonesia. Mengurus diplomasi, buruh, sampai bedak dan gincu.
bg-gray.jpg
Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.
Lukisan ini terinspirasi dari puisi berdasarkan kisah nyata. Tentang kesetiaan seekor anjing menjaga jasad tuannya, seorang pelukis muda, selama tiga bulan.
Lukisan ini terinspirasi dari puisi berdasarkan kisah nyata. Tentang kesetiaan seekor anjing menjaga jasad tuannya, seorang pelukis muda, selama tiga bulan.
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Mampukah Jokowi dan Ahok menuntaskan masalah Jakarta yang diwariskan dari zaman ke zaman?
Polisi berkunjung ke sekolah untuk mengimbau pelajar agar tidak tawuran. Yang dapat mengakhiri tawuran pelajar itu sendiri.
Polisi berkunjung ke sekolah untuk mengimbau pelajar agar tidak tawuran. Yang dapat mengakhiri tawuran pelajar itu sendiri.
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
Siapakah siluman yang disebut dalam sidang perselisihan hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi?
Siapakah siluman yang disebut dalam sidang perselisihan hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi?
K-Pop, budaya Korea yang ikut mengguncang penutupan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
K-Pop, budaya Korea yang ikut mengguncang penutupan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
transparant.png
bottom of page