top of page

Memupuk Asa di Djajaloka

Presiden Sukarno menggagas program transmigrasi “Djajaloka” untuk menyejahterakan eks kombatan Perang Kemerdekaan. Gejolak politik dan transisi kekuasaan menjadikannya melenceng dari tujuan awal.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno sedang memberi wejangan dalam peresmian objek transmigrasi CTN-BPBAT Djajaloka di Kungku, Tebing Tinggi, Sumatera Selatan. (ANRI).

  • 6 menit yang lalu
  • 9 menit membaca

STASIUN Kertapati, Sumatra Selatan akhirnya dicapai Presiden Sukarno dan rombongannya. Kendati dekat, perjalanan mereka dari pusat kota Palembang tidaklah mudah. Mereka mesti menyeberangi Sungai Musi terlebih dulu menggunakan kapal motor. Dalam penyeberangan itu, salah satu kapal pengiring sempat ada yang terbalik pula.


Perjalanan pada 10 April 1956 itu dilakukan Sukarno untuk meresmikan proyek transmigrasi Djajaloka. Proyek yang namanya diberikan langsung oleh Sukarno itu terletak di Tebing Tinggi, hampir 200 kilometer di barat Palembang. Proyek tersebut tak bisa dilepaskan dari kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diterapkan Kabinet Hatta pada masa Perang Kemerdekaan.


Diberlakukannya (Re-Ra) menimbulkan gejolak di masyarakat. Para pejuang yang angkat senjata melawan Belanda, yang berupaya menguasai kembali bekas jajahannya, dibebastugaskan sehingga menganggur. Hanya mereka yang memiliki latar belakang pendidikan formal mumpuni yang tertampung dalam wadah resmi bernama TNI. Banyak pejuang yang menganggur itu tidak terima. Politisi ataupun partai politik yang punya ketergantungan besar pada mereka pun mempermasalahkan Re-Ra, terutama mereka yang menjadi oposisi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Presiden Sukarno menggagas program transmigrasi “Djajaloka” untuk menyejahterakan eks kombatan Perang Kemerdekaan. Gejolak politik dan transisi kekuasaan menjadikannya melenceng dari tujuan awal.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dia berjejaring dengan orang-orang dari berbagai negara dalam gerakan melawan imperialisme dan kolonialisme.
bg-gray.jpg
Taklik talak dalam buku nikah pada mulanya tak digubris. Sempat dituduh hendak mengubah hukum Islam.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah menjadi menteri perempuan pertama dalam sejarah Indonesia. Mengurus diplomasi, buruh, sampai bedak dan gincu.
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
Georgia jadi debutan di Piala Eropa 2024 dan berpotensi jadi tim kejutan. Seperti apa gerangan mulanya sepakbola di Tanah Kartvelia itu?
Kain tenun di berbagai daerah di Indonesia punya ciri khas masing-masing. Sayangnya, pendataan tentang para perajinnya masih belum memadai.
Kain tenun di berbagai daerah di Indonesia punya ciri khas masing-masing. Sayangnya, pendataan tentang para perajinnya masih belum memadai.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Trofi Piala Eropa tak hanya bisa direbut dengan strategi dan skuad mumpuni, tapi juga keberuntungan. Italia pernah mengalaminya.
Upaya tolak bala dan ucap syukur suku Osing. Kenduri massal di depan rumah dengan hidangan khas Tumpeng Sewu.
Upaya tolak bala dan ucap syukur suku Osing. Kenduri massal di depan rumah dengan hidangan khas Tumpeng Sewu.
Ketika para kiai NU melucu. Dari soal makan babi sampai Jawa tanah kiai.
Ketika para kiai NU melucu. Dari soal makan babi sampai Jawa tanah kiai.
Kisah lain dari dukungan Australia terhadap kemerdekaan Indonesia. Dukungan itu hasil desakan dari bawah, desakan rakyat biasa di Australia.
Kisah lain dari dukungan Australia terhadap kemerdekaan Indonesia. Dukungan itu hasil desakan dari bawah, desakan rakyat biasa di Australia.
transparant.png
bottom of page