- 1 jam yang lalu
- 12 menit membaca
JEJAK awal pohon hujan di Indonesia bermula dari ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg, atau yang kini dikenal sebagai Kebun Raya Bogor. Di lembaga riset ternama itu, pohon yang kala itu masih diidentifikasi sebagai Pithecolobium saman dibudidayakan dan diteliti oleh para ilmuwan Kebun Raya.
Kebun Raya Bogor menerima kiriman beberapa biji Pithecolobium saman pada 1870 dari Trinidad –sebuah pulau di Karibia yang dalam dokumen kolonial lawas kerap dikelompokkan sebagai wilayah Amerika Selatan. Saat itu Trinidad adalah koloni Inggris. Besar kemungkinan, biji tersebut dikirim ke Bogor melalui jejaring antarkebun raya kolonial yang waktu itu telah terbentuk.
“Ketika biji-biji itu berkecambah, kami segera dapat menanam beberapa bibit. Karena biji-biji itu dikirim dengan nama Calliandra, dan ini adalah nama semak yang tidak terlalu besar, bibit-bibit itu ditanam dengan jarak 3 hingga 4 meter. Ternyata terlambat diketahui bahwa jarak ini terlalu dekat dan pohon-pohon raksasa pun tumbuh dengan cabang saling berbelit,” catat Hendrik J. Wigman, ahli hortikultura Belanda yang bekerja di Kebun Raya sejak 1869, dalam tulisannya yang berjudul “Verfraaing Onzer Steden” (Mempercantik Kota-Kita) di jurnal Teysmannia, Vol. 26, tahun 1915.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















