- 1 hari yang lalu
- 11 menit membaca
KETIKA Presiden Sukarno berpidato dalam rangka memperingati hari kemerdekaan yang ke-11 pada 17 Agustus tahun 1956, pamflet-pamflet provokatif yang ditempelkan di pohon-pohon tersebar di banyak jalan penting di Jakarta, Bandung, dan kota-kota sekitar. Pamflet tersebut berisikan perlawanan anti-Jawaisme dan makian kepada pengurus PNI Jawa Barat. Presiden Sukarno –yang mantan PNI– dan orang-orang Jawa jadi sasaran kecaman.
Tak lama kemudian, dalang penyebaran pamflet diketemukan. Pelakunya ternyata Front Pemuda Sunda (FPS). FPS merupakan organisasi politik pemuda Sunda untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Sunda. Organisasinya lahir dalam sebuah kongres tanggal 17-18 Maret 1956.
Alasan mereka menyebarkan pamflet dilatarbelakangi kondisi sosial masyarakat Sunda yang mereka anggap dimarjinalkan. Marjinalisasi itu dilihat dari perlakuan timpang antara pusat dan daerah —pusat begitu dimanjakan, sedangkan daerah ditelantarkan, bahkan dijadikan sapi perah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















