top of page

Orang Sunda di Suriname

Iding Soemita menjadi pemimpin politik masyarakat Jawa di Suriname. Meski hanya lulus sekolah rakyat, ia mendirikan partai politik Jawa pertama dan berhasil duduk di parlemen.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Iding Soemita (tengah) sebagai anggota parlemen Suriname di Den Haag, Belanda, 11 Juli 1962. (Arsip Nasional Belanda).

16 Jul 2023
4 menit membaca

Diperbarui: 16 Apr

BURUH kontrak atau contractarbeid membuat orang-orang Jawa meninggalkan tanah kelahirannya. Mereka dipekerjakan di perkebunan-perkebunan Belanda di Suriname. Di negeri bekas koloni Belanda yang merdeka pada 1975 itu etnis Jawa membentuk 14% dari seluruh populasi penduduk. Etnis Jawa hidup berdampingan dengan etnis lain seperti Afro Suriname, India, pribumi, Tionghoa, kulit putih, dan lain-lain.


Orang-orang dari Hindia Belanda yang dikirim ke Suriname sebagian besar etnis Jawa. Namun, ada beberapa etnis lain yang turut dalam rombongan. Arsip Nasional Belanda (nationaalarchief.nl) dalam “Javaanse contractarbeiders in Suriname 1890–1930” menyebutkan, “Zij werden Javanen genoemd, ondanks dat ze niet allemaal uit Java kwamen…” (Mereka disebut orang Jawa, meskipun tidak semuanya berasal dari Jawa).


Hein Vruggink dan Johan Sarmo dalam Surinaams-Javaans-Nederlands woordenboek mengutip Register Imigrasi 1983 Paramaribo, menguraikan komposisi etnis dari Hindia Belanda terdiri dari 90% Jawa, 5% Sunda, 0,5% Madura, dan sisanya etnis-etnis dari Batavia yang kurang jelas.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page