- 20 Apr
- 5 menit membaca
Diperbarui: 2 hari yang lalu
KENDATI sudah 71 tahun berlalu, makna, pesan, hingga gaung Konferensi Asia-Afrika (KAA) belum usang untuk dibicarakan. Konflik yang terjadi di dunia selama tujuh dekade hingga kini adalah problem lama yang juga jadi perhatian di forum KAA di Bandung: neo-kolonialisme dan neo-imperialisme yang terus mencengkeram negara-negara dunia ketiga.
Hal itu disampaikan sejarawan asal India Vijay Prashad dalam public lecture “The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis” di peringatan ke-71 KAA, Minggu (19/4/2026) siang di Gedung Merdeka, Bandung. Event tersebut disiarkan secara daring di akun Youtube Historia.ID.
Hingga kini pun, menurut Vijay, kolonialisme dan imperialisme Barat terus berusaha membungkam mayoritas dunia. Kolonialisme tidak hanya mencuri kekayaan. Hal dramatis tentang kolonialisme dan imperialisme yang terjadi di abad ke-19 dan abad ke-20 adalah pembungkaman gagasan-gagasan dari masyarakat dunia ketiga dan negeri-negeri Selatan yang dianggap tidak penting. Negara-negara dunia ketiga dianggap tidak penting sebagai kontributor dari sejarah dunia. Dengan kata lain, mereka membuat sejarah dan negara-negara dunia ketiga hanya berpartisipasi di dalamnya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















