top of page

Kampanye Cinta Rupiah di Masa Lalu

Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Purbaya mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 2 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

MAKIN hari, rupiah kian kian melemah. Hingga awal pekan ini, Senin (8/6/2026), nilai tukar rupiah menukik lagi dengan level 1 dolar Amerika Serikat (AS) senilai Rp18.115. Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa pun mendengungkan untuk lebih cinta menggunakan rupiah di masa seperti ini.


Mengutip Kumparan, 6 Juni 2026, Menteri Purbaya menyampaikannya saat melakoni sidak ke Pelabuhan Tanjung Priok. Ia turut mendengarkan keluhan para pelaku usaha soal dolar AS yang digunakan di kawasan pelabuhan untuk beberapa transaksi tertentu. Menteri Purbaya pun menanggapi bahwa secara regulasi, transaksi di wilayah Indonesia mesti menggunakan rupiah. Ia mengaku akan menindak jika ada yang melapor dan kemudian terbukti menggunakan dolar AS.


“Transaksi yang dilakukan adalah rupiah, memang. Kalau ada dolar, kita punya penyelewengan. Janganlah. Cinta rupiah. Kita cinta rupiah semua,” cetus Menteri Purbaya.


Terlepas dari faktor eksternal, lemahnya rupiah juga terdampak oleh transaksi berjalan. Maka tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau Bank Indonesia saja untuk menguatkan kembali rupiah, melainkan juga dukungan elemen masyarakat secara menyeluruh.


“Peristiwa naik turunnya nilai tukar Rupiah tidak dapat dilepaskan dari kinerja neraca transaksi berjalan (current account). Neraca transaksi berjalan yang defisit menimbulkan konsekuensi melemahnya Rupiah. Semakin tinggi permintaan dolar AS di dalam negeri untuk kepentingan impor barang dan jasa, pembayaran utang luar negeri, serta pembayaran imbal hasil investasi asing langsung dan portofolio maka semakin tinggi pula tekanan bagi rupiah untuk melemah,” terang Akhmad Akbar Susamto dkk. dalam Kemandirian Ekonomi Gerbang Kesejahteraan: Pemikiran 100 Ekonom Indonesia.


Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa saat sidak ke Bea Cukai Tanjung Priok (kemenkeu.go.id)
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa saat sidak ke Bea Cukai Tanjung Priok (kemenkeu.go.id)

Upaya Kuatkan Rupiah di Pengujung Rezim Soeharto

“Aku cinta rupiah, biar dolar di mana-mana. Aku suka rupiah karena aku anak Indonesia. Aku cinta rupiah, biar dolar merajalela...”


Begitulah penggalan lirik lagu rilisan Februari 1998 yang didendangkan penyanyi cilik Cindy Cenora. Kala itu, rezim Orde Baru Soeharto sedang di pengujung nafasnya. Situasi ekonomi dan moneter nasional masih kacau hebat akibat Krisis Moneter 1997., Nilai tukar rupiah sekitar Rp.2.400 per dolar AS di bulan Juli 1997 mendadak terjun sampai menembus Rp16.600 per dolar AS pada pertengahan 1998.


Selain lagu “Aku Cinta Rupiah” di atas, pada Oktober 1998 penyanyi cilik yang sama juga merilis single “Krismon”. Kedua lagu itu diciptakan musisi dan produser Tonny Hawaii. Ada pula lagu “Menabung” ciptaan Titiek Puspa yang dinyanyikan duet penyanyi cilik Saskia dan Geofanny yang rilis pada 1997, untuk mengajak masyarakat Indonesia gemar menabung di masa krisis itu. Lagu-lagu itu jadi semacam “amunisi” terkait kampanye Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang didengungkan anggota MPR RI, direktur utama stasiun televisi TPI sekaligus putri Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut Soeharto.


“Tutut menggelar Gerakan Cinta Rupiah (Getar), 10 Januari 1998. Putri sulung Soeharto dan salam satu bintang kemenangan Golkar pada Pemilu 1997 itu, memboyong anggota DPR/MPR dari Fraksi Karya ke dalam gerbong Getar. Tutut sendiri, sebagai pencetus, merupiahkan US$50 ribu guna memperkokoh otot rupiah,” ungkap Ishak Rafick dalam Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia Ekonomi dan Jalan Baru Membangun Indonesia.


Sebagai kelanjutannya, lanjut Ishak, para anggota legislatif di gerbong Getar juga merupiahkan antara 1.000-5.000 dolar AS yang mereka miliki. Dari kalangan legislatif, kampanyenya kemudian juga disebarluaskan ke jajaran menteri, gubernur, pegawai negeri sipil dan pegawai BUMN, hingga para pengusaha dan rakyat jelata.


Para pengusaha yang turut berpartisipasi merupiahkan dolar mereka antara lain Teddy P. Rahmat (10 ribu dolar AS), Bambang N. Rahmadi (10 ribu dolar AS), Burhan Uray (50 ribu dolar AS), Sukamdani S. Gitosardjono (50.100 dolar AS), Tommy Winata (500 ribu dolar AS), Eka Tjipta Widjaja (1 juta dolar AS), dan yang terbanyak adalah H. Murad Husain (10 juta dolar AS).


“Menyusul kebangkrutan ekonomi terparah selama Orde Baru, sejak medio 1997 hingga sekarang, di tengah imbauan pemerintah dengan gerakan cinta rupiah (Getar), Murad pada Januari 1998 menukarkan dolarnya sampai lima juta. Pada minggu itu pula ia menjual lagi sejumlah lima juta dolar, berikut sumbangannya kepada negara Rp100 juta,” tulis Alif We Onggang dalam Tentang Sejumlah Orang Sulawesi Selatan, 1998.


Namun, tak semua pengusaha berkenan menukarkan dolar mereka. Salah satu yang menolak adalah Sofjan Wanandi.


“Sofyan Wanandi yang diminta untuk membantu perekonomian Indonesia dengan tegas menolak. Penolakan Sofyan langsung disebarkan oleh Panglima ABRI Jenderal TNI Faesal Tanjung. Sofyan sendiri akhirnya ngacir ke Australia di tengah aksi demonstrasi dan tuntutan untuk mengadili dirinya,” ungkap Artawijaya dalam Dilema Mayoritas: Pertarungan Ideologis Umat Islam Indonesia menghadapi Kelompok Sekular, Komunis, dan Kristen Radikal.


Sofyan ke Australia bukan karena penolakan itu, namun karena diburu aparat militer. Dia dituduh terlibat mendanai kelompok pelaku peristiwa ledakan di Rumah Susun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat.


Walaupun kampenyenya masif, Getar tetap tak mampu mendongkrak rupiah berdiri lebih tegak terhadap dolar. Selain karena para pejabat dan pengusaha itu dianggap belum terlalu signifikan menukarkan dolar mereka, pemerintahan Soeharto sendiri jatuh empat bulan setelah Getar dicanangkan.


“Sebagai gerakan moral Getar cukup baik, tetapi dia tetap tidak akan mampu mendongkrak nilai rupiah. Sebab, perburuan dolar masih tetap berlangsung dengan intensitas yang terus meningkat,” kata ekonom Rizal Ramli, dikutip Ishak.


Rupiah baru pulih kembali di masa kepresidenan Bacharuddin Jusuf Habibie. Dengan pendekatan stabilisasi ala aerodinamika, di antaranya dengan menjadikan Bank Indonesia independen sehingga bebas dari intervensi politik –sebelumnya, berada di bawah menteri keuangan, restrukturisasi perbankan, reformasi regulasi, hingga menaikkan suku bunga, Presiden Habibie bikin dolar yang tadinya di atas Rp16 ribu jadi sekitar Rp6.500 per dolar.


“Habibie tidak percaya pada para ekonom anak buah Widjojo (Nitisastro); mereka dikenal sebagai tokoh-tokoh Mafia Berkeley. Dia mengangkat Bambang Subianto, sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung menjadi Menteri Keuangannya menggantikan Fuad Bawazir. Pasa masa BJ. Habibie pula diterbitkan undang-undang yang mengubah kedudukan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral pemegang Otoritas Moneter bebas dari kekuasaan pemerintah (UU No. 23 Tahun 1999, red). Pada kenyataannya, kebijakan Habibie ini mampu menurunkan kembali nilai Dollar yang sempat naik lima kali lipat pada Januari 1998 menjadi sekitar 6.500 Rupiah per Dollar pada September 1999,” tandas Sri Bintang Pamungkas dalam Ganti Rezim, Ganti Sistim: Pergulatan Menguasai Nusantara.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Jauh sebelum kedatangan Belanda, tradisi literasi masyarakat Betawi telah berkembang pesat. Bahkan, mereka sudah mengenal penyewaan naskah.
bg-gray.jpg
Sebagai lulusan sekolah guru, Sudiro menghabiskan masa mudanya dengan menjadi guru sekaligus aktivis pergerakan nasional.
bg-gray.jpg
Selain jago catur, Sudiro muda mengisi hari-harinya semasa sekolah dengan aktif dalam pergerakan Jong Java dan kepanduan.
bg-gray.jpg
Kelahirannya disambut gembira oleh kakeknya sebagai cucu pertama. Diberinya nama Sudiro yang berarti berani. Selamat dari wabah Flu Spanyol.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Purbaya mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kala sidak ke Tanjung Priok, Menteri Purbaya mengingatkan untuk mencintai rupiah. Dahulu di pengujung Orde Baru gerakan cinta rupiah didengungkan Tutut Soeharto.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Kisah kapten yang marah kepada komandannya. Satu telinga komandannya dipotongnya.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Meredupnya prestise majalah sastra dan bertumbuhnya komunitas sastra daerah. Di era digital, setiap orang bisa menerbitkan karyanya sendiri.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Magnetron merupakan komponen penting dalam teknologi radar untuk perang. Seorang insinyur mengembangkannya untuk mesin pemanas makanan.
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Terpilih secara aklamasi menjadi Presiden RI, bagaimana perjalanan hidup Sukarno?
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
Asrul Sani seniman legendaris, dikenal sebagai sastrawan, penyair, dan sineas. Pernah menjadi anggota laskar rakyat dan lulusan sarjana kedokteran hewan.
transparant.png
bottom of page