top of page

Revolusi Indonesia yang Memantik Gerakan Dekolonisasi

Sukarno menginginkan dunia tanpa kolonialisme dan imperialisme. David van Reybrouck hadir di Jakarta untuk menyalakan kembali semangat anti-penjajahan itu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

David Grégoire Van Reybrouck (kanan) dalam public lecture-nya di Jakarta (Bisri/Historia.ID)

28 Okt 2025
5 menit membaca

Diperbarui: 20 Apr

SEBAGAIMANA preambul UUD 1945 bahwa kemerdekaan menjadi hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, sosok Sukarno sebagai sebuah ide dalam perannya di dunia internasional membebaskan negeri-negeri terjajah akan selalu relevan untuk dibicarakan. Bahkan ketika zaman begitu cepat bergulir dengan teknologi 4.0.


Dunia bisa menyaksikan dengan mata telanjang secara langsung lewat gawai masing-masing tentang kegetiran yang masih berlangsung di Palestina: pendudukan dan sistem apartheid di Tepi Barat serta genosida di Jalur Gaza terus dilakukan zionis Israel. Ironisnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun gagal menghentikan pelanggaran itu hingga mengusik rasa kemanusiaan. Gencatan senjata di Gaza sejak 10 Oktober 2025 yang diklaim berhasil dicapai Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun dianggap angin lalu oleh Israel yang hingga kini sudah lebih dari 40 kali melanggarnya.


Sejarawan Belgia David Grégoire Van Reybrouck turut prihatin atas situasi itu. Ditemui selepas memberikan public lecture bertajuk “Sukarno and the Making of the New World” di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (22/10/2025) malam, ia mengatakan spirit Bandung hail Konferesi Asia-Afrika (KAA) pada 1955 bisa jadi cermin bagaimana banyak negara berkepentingan bisa satu suara untuk menggugat penjajahan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page