- 28 Okt 2025
- 5 menit membaca
Diperbarui: 7 Mar
SEBAGAIMANA preambul UUD 1945 bahwa kemerdekaan menjadi hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, sosok Sukarno sebagai sebuah ide dalam perannya di dunia internasional membebaskan negeri-negeri terjajah akan selalu relevan untuk dibicarakan. Bahkan ketika zaman begitu cepat bergulir dengan teknologi 4.0.
Dunia bisa menyaksikan dengan mata telanjang secara langsung lewat gawai masing-masing tentang kegetiran yang masih berlangsung di Palestina: pendudukan dan sistem apartheid di Tepi Barat serta genosida di Jalur Gaza terus dilakukan zionis Israel. Ironisnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun gagal menghentikan pelanggaran itu hingga mengusik rasa kemanusiaan. Gencatan senjata di Gaza sejak 10 Oktober 2025 yang diklaim berhasil dicapai Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun dianggap angin lalu oleh Israel yang hingga kini sudah lebih dari 40 kali melanggarnya.
Sejarawan Belgia David Grégoire Van Reybrouck turut prihatin atas situasi itu. Ditemui selepas memberikan public lecture bertajuk “Sukarno and the Making of the New World” di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (22/10/2025) malam, ia mengatakan spirit Bandung hail Konferesi Asia-Afrika (KAA) pada 1955 bisa jadi cermin bagaimana banyak negara berkepentingan bisa satu suara untuk menggugat penjajahan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












