top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Demi Mudik, Serdadu Indo-Jawa KNIL Pilih Desersi

Bertumbuh di Jawa membuatnya punya kerinduan besar pada kampung halaman. Adanya  tawaran berpadu kenekatannya membawa George Reuneker memilih desersi demi mudik.

16 Mar 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Ilustrasi kereta api. (M.F. Mukthi/Historia.ID).

  • 2 hari yang lalu
  • 3 menit membaca

KERETA api Istimewa disediakan pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk membawa rombongan Dr Koets dari Komisi Belanda ke pedalaman Jawa di daerah Republik Indonesia pada 15 September 1946, dua minggu setelah lebaran. Saat itu antara pemerintah dengan Belanda sedang berdiplomasi guna mencari kata sepakat atas konflik keduanya.

 

Adalah Des Alwi (1927-2010), keponakan angkat Wakil Presiden Hatta, yang menngusahakan keretaapi tersebut. Pria asal Banda itu punya akses untuk ikut Kereta Istimewa dari Jakarta lantaran punya banyak kawan ketika berada di Surabaya dan Jakarta. Jumlah kawannya bertambah setelah Indonesia merdeka dan banyak yang lebih tua darinya. Salah satu kawannya, George Reuneker, menumpang dalam Kereta Istimewa itu.

 

“George Reuneker menyelundupkan senjata itu di bawah tempat duduk Dr. Koets di kereta api,” kenang Des Alwi dalam Seri Dimata: Pribadi Manusia Hatta.

 

George berhasil membawa masuk setidaknya tiga pucuk Tommy Gun beserta peluru-pelurunya ke dalam kereta itu. Tommy Gun adalah sebutan untuk senapan mesin ringan rancangan Brigadir Jenderal Amerika bernama John T. Thompson pada 1918 dan banyak dipakai dalam Perang Dunia II. George mencuri senjata-senjata itu dari markas kesatuannya.

 

George adalah anggota tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL).

Sebelum tentara Jepang menduduki Indonesia, George serdadu milisi zeni KNIL di Magelang. Nomor stamboeknya 107917 dan dia sempat menjadi tawanan perang yang ditahan sampai Jepang. Kartu tawanan perangnya menyebut dia kelahiran 19 Januari 1917 dari pasangan Johan Leonard Reuneker (1872-1952) dan Siti Amanah. Keluarga mereka tinggal di Krajan, Salatiga. George dengan demikian seorang Indo-Jawa.

 

Setelah bebas dari kamp tawanan perang, George mau-tak mau bergabung ke KNIL lagi. Itu berlangsung hingga ketika Des Alwi memberi jalan mudik untuknya dengan ikut serta naik Kereta Istimewa.

 

Merasa sudah diberi jalan, George “membayarnya” dengan menuruti apa yang diminta Des. Waktu naik Kereta Istimewa yang mengangkut pejabat-pejabat Belanda itu, George bukan sedang bertugas mengamankan sesuai perintah dinas dari KNIL. Alhasil dia mesti menyamar. Singkatnya, George sedang melakukan desersi di Kereta Istimewa.

 

“Reuneker selamat dalam penyamaran di kereta api, dan bisa keluar dari pos pemeriksaan Belanda di daerah Klender, lalu berhasil tiba di Yogya,” ujar Des Alwi.

 

Setelah George lolos, Des Alwi melapor kepada Bung Hatta yang dikenal amat berhati-hati dan correct. Maka begitu mendengar laporan Des yang masih sangat muda, Bung Hatta menganggap tindakan Des itu membahayakan diplomasi kemerdekaan Indonesia.

“Ini tidak lucu, Des,” kata Bung Hatta, yang mengkhawatirkan kabar desersi George Reuneker sampai ke telinga delegasi Belanda dan diplomasi bisa terganggu.

 

Beruntung, dalam perjalanan hingga selama di Yogyakarta Koets tak mengalami hal buruk. Setelah beberapa hari di Yogyakarta, Koets kembali ke Jakarta. Pada 20 September 1946 sore, Koets langsung mengadakan konferensi pers di Hotel Des Indes tak lama setelah tiba di Jakarta.

 

“Bangsa Indonesia sudah mengalami kelahiran baru,” kata Koets seperti dicatat Rosihan Anwar dalam Belahan Jiwa: Memoar Kasih Sayang, Percintaan Rosihan Anwar dan Zuraida Sanawi.

 

Rosihan ikut dalam perjalanan pulang-pergi bersama Koets. Ketika di Yogyakarta, dia bertunangan dengan Zuraida Sanawi.

 

Petualangan George Reuneker dalam Kereta Iistimewa rupanya tak menjadi masalah yang mengganggu. Maka sesampainya di Yogyakarta, George yang pernah jadi montir radio di KNIL bisa menjadi tambahan tenaga bagi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang baru saja berdiri. Selain di zeni KNIL, George juga pernah berada di Dinas Penerbangan KNIL yang disebut Militaire Luchvaart (ML).

 

”Rupanya Mas Cok sendiri waktu berniat desersi dari ML, dan menggabungkan diri dengan TNI,” aku Boediardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi.

 

Boediardjo, perwira AURI yang kelak jadi menteri penerangan di pemerintahan Soeharto, terhitung masih sepupu jauh dari George Reuneker yang ibunya orang Jawa itu. George yang pandai menari Jawa ini kerap dipanggil Cok oleh keluarganya. Ayahnya yang suka budaya Jawa dikenal sebagai  Romo Reuneker. Keluarga ini punya rumah di Salatiga yang belakangan dianggap angker.

 

George lalu dijadikan perwira AURI. Mulanya mendapat pangkat Opsir Muda Udara I (setara letnan satu). Pada 1947, seperti diberitakan Nieuwe Courant tanggal 15 November 1947, George naik pangkat menjadi Opsir Udara III (setara kapten). Namun setahun kemudian George keluar dari AURI dengan pangkat Mayor. Buku Awal Kedirgantaraan di Indonesia menyebut George pernah menjadi kepala Bagian Penerbangan Sipil dan kepala Biro Aero Club di AURI. George lalu terjun ke bisnis penerbangan hingga meninggal dunia pada 30 Januari 1974.*

3 Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
Rayanamige Mige
Rayanamige Mige
7 jam yang lalu
Dinilai 5 dari 5 bintang.

Nostalgia sejarah perjuangan bangsa. Sayang generasi kekinian dengan apa yang dinamakan gen z justru minim menyentuhnya.

Suka

Dj Bloger
Dj Bloger
sehari yang lalu
Dinilai 5 dari 5 bintang.

Salatiganya mana ya, rumah angker...?

Suka
Rayanamige Mige
Rayanamige Mige
7 jam yang lalu
Membalas kepada

Iya tuh, mestinya di tampilkan dong.

Suka

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page