top of page

Tante Girang di Jalan Sabang

Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi kawasan Jl. Sabang. (M.A. Yusuf/Historia.ID).

30 Apr
4 menit membaca

SORE itu, seperti biasa, kendaraan hilir mudik memenuhi ruas Jalan Sabang. Sementara di pinggir jalan, para penjaja makanan kaki lima mulai bersiap-siap membuka gerainya. Begitulah aktivitas yang terjadi saban hari di Jalan Sabang, yang kini lebih dikenal dengan nama Jalan Haji Agus Salim, Jakarta Pusat.


Meski telah bersalin nama sebagai Jalan Haji Agus Salim, tapi orang-orang masih suka menyebutnya Jalan Sabang. Kawasan Jalan Sabang saat ini dikenal sebagai salah satu sentra kuliner di Jakarta Pusat. Mulai dari jajanan sate pinggir jalan, warung kopi, hingga restoran modern tersebar di Jalan Sabang.


“Di Sabang ini terkenal tukang sate. Bung Karno tuh, tahun 1960-an main sini, makan sate. Nongkrong. Pacaran sama Baby Huwae,” tutur Taufik Hidayat alias Koh Abun, 69 tahun, sesepuh warga Jalan Sabang kepada Historia.ID.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page