- 2 jam yang lalu
- 5 menit membaca
KETIKA dijebloskan ke penjara karena berkelahi dengan serdadu Belanda berpangkat sersan, Tomi tinggal satu sel dengan seorang pembunuh sangar. “Samber Nyawa,” kata si pembunuh memperkenalkan diri. Dalam kamar sel, mereka sempat bergulat, adu jotos unjuk kekuatan siapa yang paling jagoan. Baku hantam itu diakhiri dengan perbincangan tentang diri masing-masing. Namun, baru sebentar bercengkerama, Samber Nyawa permisi undur diri meninggalkan Tomi.
“Besok aku akan dikirim ke Nusakambangan,” kata Samber Nyawa.
Tomi kembali dilanda sepi. Sendirian dalam selnya. Tiba-tiba, dia teringat sosok Tante Marjati.
“Tante itu begitu montok, seperti seekor kijang, tegap, dan ketat bila bernafas, dan diingatnya berapa kali Tante Marjati menggigit bahunya bila puncaknya akan meletup, meronta-ronta seperti orang kesurupan dalam genggamannya yang kekar, dan, oh...”
Begitulah Motinggo Boesje dengan lihai memainkan kata-kata dalam kisah Tante Marjati yang menjurus dan merangsang pembaca. Ia berkisah tentang Tomi, Narti teman sebaya Tomi, dan Tante Marjati, serta hubungan intim yang terjalin di antara mereka. Latarnya mengambil seting di masa revolusi kemerdekaan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















