top of page

Novelis Tante Girang

Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Motinggo Boesje. (M.A. Yusuf/Historia.ID).

  • 25 Apr
  • 5 menit membaca

KETIKA dijebloskan ke penjara karena berkelahi dengan serdadu Belanda berpangkat sersan, Tomi tinggal satu sel dengan seorang pembunuh sangar. “Samber Nyawa,” kata si pembunuh memperkenalkan diri. Dalam kamar sel, mereka sempat bergulat, adu jotos unjuk kekuatan siapa yang paling jagoan. Baku hantam itu diakhiri dengan perbincangan tentang diri masing-masing. Namun, baru sebentar bercengkerama, Samber Nyawa permisi undur diri meninggalkan Tomi.


“Besok aku akan dikirim ke Nusakambangan,” kata Samber Nyawa.


Tomi kembali dilanda sepi. Sendirian dalam selnya. Tiba-tiba, dia teringat sosok Tante Marjati.


“Tante itu begitu montok, seperti seekor kijang, tegap, dan ketat bila bernafas, dan diingatnya berapa kali Tante Marjati menggigit bahunya bila puncaknya akan meletup, meronta-ronta seperti orang kesurupan dalam genggamannya yang kekar, dan, oh...”


Begitulah Motinggo Boesje dengan lihai memainkan kata-kata dalam kisah Tante Marjati yang menjurus dan merangsang pembaca. Ia berkisah tentang Tomi, Narti teman sebaya Tomi, dan Tante Marjati, serta hubungan intim yang terjalin di antara mereka. Latarnya mengambil seting di masa revolusi kemerdekaan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page