top of page

Larangan Perayaan Ulang Tahun Pejabat Orde Baru

Bertentangan dengan pola hidup sederhana, perayaan ulang tahun di kalangan pejabat negara dilarang pada masa Orde Baru. Termasuk larangan diadakan di hotel mewah.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Soeharto merayakan ulang tahun anggota keluarganya dengan tumpengan sederhana di kediaman Jl. Cendana, Jakarta Pusat. (Otobiografi Soeharto Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya)

22 Apr
4 menit membaca

PERAYAAN ulang tahun di kalangan pejabat tinggi negara terasa berlebihan di tengah kondisi masyarakat yang semakin sulit. Barangkali tak banyak yang tahu, perayaan ulang tahun di kalangan pejabat negara sempat dilarang di masa Orde Baru. Pelarangan ini sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan pola hidup sederhana pada awal pemerintahan Presiden Soeharto.


Selain itu, perbaikan perekonomian turut mempengaruhi sikap para pejabat dan petinggi negara. Mereka mulai memperlihatkan praktik hidup mewah dan foya-foya, baik dalam kehidupan pribadi maupun lembaga negara yang dipimpinannya.


Instansi negara yang mempertontonkan kemewahan dalam pesta perayaannya adalah Pertamina. Perusahaan negara yang mengelola industri dan tambang minyak bumi ini dipimpin oleh Ibnu Sutowo. Sepanjang tahun 1970-1973, koran Indonesia Raya gencar memberitakan sepak terjang Ibnu Sutowo dalam mengelola Pertamina.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page