- 4 hari yang lalu
- 11 menit membaca
KAMIS sore, 19 September 1929, Alun-alun kota Pekalongan, Jawa Tengah, berubah menjadi lautan manusia. Penonton berjejal di pinggir lapangan. Hadir Residen Gerardus Diederik Paul Antoine Renardel de Lavalette dan Bupati R.M. Ario Soerjo. Mereka menanti dengan antusias pertandingan “kelas dunia” antara Alhilaal dan Calcutta Wanderers dari India. Setelah bupati melakukan kick off, pertandingan pun dimulai.
Sejak menit pertama, Alhilaal terus menekan. Lini depan yang dimotori Maliki, Agil, Ali, dan Abdullah bergerak cepat, memaksa barisan belakang lawan bekerja keras menahan gelombang serangan. Menit ke 15, sebuah tembakan brilian dari kaki Ali meluncur ke sudut kiri atas gawang. Soraksorai penonton meledak.
Calcutta Wanderers merespon dengan serangan sporadis. Namun gagal melewati pertahanan Alhilaal yang dikawal Achmad dan Saleh. Babak pertama sepenuhnya berada dalam genggaman tuan rumah. Menjelang turun minum, Alhilaal mendapatkan tendangan sudut. Bola melayang di kotak pinalti dan berhasil ditanduk Ali ke gawang lawan. 2-0.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















