- 2 jam yang lalu
- 4 menit membaca
KUDA NIL merupakan hewan endemik Afrika, umumnya ditemukan di wilayah sub-Sahara, yang mendiami sungai, danau, dan rawa-rawa. Namun, kehadiran kuda nil di kebun binatang milik Pablo Escobar menjadi awal mula hewan tersebut berkembang biak hingga jumlahnya mengkhawatirkan penduduk dan pemerintah.
Pablo Escobar, gembong narkoba paling terkenal di dunia, menghasilkan kekayaannya dari bisnis obat terlarang. Raja kokain ini juga dijuluki Robin Hood karena menggunakan kekayaannya untuk membangun sekolah, fasilitas umum, dan memberikan uang kepada rakyat miskin. Karena hal ini, dia dikisahkan sebagai antihero yang populer dan legendaris.
Escobar lahir di Rionegro, Kolombia pada 1 Desember 1949, dalam lingkungan kelas pekerja di Medellin. Dia mulai terlibat kegiatan kriminal di usia remaja, seperti pencurian nisan dari pemakaman, mengikis nama-nama di nisan tersebut, dan menjualnya kembali. Dia juga terlibat pemalsuan dokumen, hingga memasuki usia 20-an, dia mulai mengedarkan kokain.
Joshua Hammer menulis dalam “The Cocaine Kingpin’s Wildest Legacy: What Can Be Done With Pablo Escobar’s Marauding Hippos?” The Guardian, 27 Agustus 2024, ketika Pablo Escobar muncul di Puerto Triunfo pada 1978, pemerintah baru saja membangun jalan raya aspal dua lajur antara Medellin dan Sungai Magdalena, membuat wilayah hutan itu lebih mudah diakses. Tempat itu sempurna untuk membangun tempat peristirahatan. Setelah melakukan pencarian, Escobar membeli properti seluas 2.000 hektar di dekat Doradal.
Escobar membangun vila, landasan pacu, landasan helikopter, hanggar pesawat, kandang kuda, danau buatan, taman hiburan bertema dinosaurus, dan arena adu banteng. Diperkirakan lebih dari 1.000 orang bekerja mengurus properti mewah tersebut. Escobar kemudian terdorong membangun kebun binatang yang berisi berbagai hewan eksotis.
Aldona Bialowas Pobutsky mencatat dalam Pablo Escobar and Colombian Narcoculture, salah satu hewan di kebun binatang Escobar adalah kuda nil. Hewan tersebut merupakan proyek megah Escobar, yang pada masa jayanya menyiasati peraturan internasional yang membatasi perdagangan hewan eksotis untuk mengisi peternakannya.
Escobar sangat selektif dalam memilih hewan-hewan yang akan dimasukkan ke dalam kebun binatangnya. Ketertarikannya kepada hewan-hewan tidak umum di Kolombia membuatnya tak segan menggelontorkan dana besar untuk membawa berbagai jenis hewan tersebut ke properti miliknya. Bahkan, dia membuka kebun binatangnya untuk umum yang membuat namanya semakin populer di masyarakat. Pada 1980-an, orang-orang berbondong-bondong datang ke tempat yang dikenal dengan Hacienda Nápoles itu.
Ahli zoologi Inggris, Lucy Cooke menulis dalam The Truth About Animals: Stoned Sloths, Lovelorn Hippos, and Other Tales from the Wild Side of Wildlife, legenda mengatakan bahwa Escobar memerintahkan pesawat kargo raksasa dari Rusia untuk terbang ke Afrika dan mengisinya dengan satwa liar ilegal yang dibius. “Bahtera” itu terbang kembali ke Kolombia sebelum hewan-hewan tersebut bangun. Selama bertahun-tahun, Escobar menyelundupkan berbagai hewan seperti kanguru dan empat kuda nil –tiga betina dan satu jantan yang agresif yang disebut El Viejo. Kuda nil itu dilepaskan di danau kecil di samping rumah besar di area itu.
Kematian Escobar pada 1993 tidak hanya meruntuhkan kerajaannya, tetapi juga berdampak pada hewan-hewan di kebun binatangnya. Setelah dia ditembak mati oleh polisi Kolombia di Medellin, warga setempat berbondong-bondong masuk ke properti milik Escobar. Mereka merusak vila dan mencari harta kartun uang dan senjata yang kabarnya disembunyikan. Setelah propertinya rusak dan para pekerjanya pergi menyelamatkan diri, kebun binatang Escobar beserta hewan-hewannya ditinggalkan begitu saja.
Pada 1998, pemerintah menyita properti tersebut dan memindahkan sebagian besar hewan ke kebun binatang di dalam negeri. Namun, kuda nil di kebun binatang itu terus bertambah. Jumlahnya berlipat ganda setiap lama tahun. Beberapa di antaranya menerobos kawat berduri yang mengelilingi Hacienda dan berkeliaran di pedesaan Kolombia.
“Kuda nil merupakan hewan sangat teritorial, jadi begitu salah satu anak El Viejo mencapai kematangan seksual, hewan tersebut akan mengusir anaknya dari kolam keluarga. Lembah Magdalena di sekitarnya dipenuhi sungai-sungai besar berfungsi sebagai jalan raya bagi kuda nil, memungkinkan jantan muda yang bergairah bepergian ratusan mil ke pedesaan Kolombia. Di Afrika, hal ini sangat normal, jantan muda meninggalkan kelompok dan pergi sendiri mencari pasangan. Namun, di Kolombia, tidak ada kuda nil di sana, dan ini berpotensi menimbulkan kekacauan,” tulis Cooke.
Di Afrika, kuda nil harus bertahan hidup selama musim kemarau yang parah. Sementara di Kolombia yang lembap, karena hujan turun setiap tahun dan tidak ada predator, serta persaingan relatif sedikit dari kuda nil lain, kuda nil hidup lebih nyaman sehingga mengubah perilaku mereka. Di Afrika, kuda nil biasanya mulai aktif secara seksual pada usia tujuh hingga sebelas tahun, tetapi kuda nil milik Escobar sudah berkembang biak sejak usia tiga tahun, dan kuda nil betina melahirkan anak setiap tahun, bukan setiap dua tahun seperti di Afrika.
Satu per satu kasus kuda nil dilaporkan, beberapa di antaranya pengrusakan tanaman atau kontak fisik dengan manusia. Sebuah kasus melaporkan, seekor kuda nil berjalan ke halaman sekolah yang mengakibatkan kepanikan para guru dan murid. Meskipun tidak ada yang terluka, insiden ini menarik perhatian publik hingga mendorong aparat untuk bertindak.
Sejumlah upaya dilakukan untuk mengendalikan peningkatan populasi kuda nil. Salah satunya memburu hewan tersebut. Namun, ketika foto seekor kuda nil sasaran perburuan tersebar di media, protes bermunculan. Di tengah kemarahan publik, yang berujung mundurnya menteri lingkungan hidup, perburuan kuda nil ditunda. Cara lain digunakan dengan memasang kawat berduri dan pagar listrik di area Hacienda serta menawarkan adopsi kuda nil kepada kebun binatang di berbagai negara.
“Namun, rencana tersebut dikritik oleh International Union for Conservation of Nature. Komite yang terdiri dari biologi dan konservasionis hewan itu memandang program relokasi kebun binatang akan sangat mahal, tidak memberi manfaat konservasi, dan merupakan penggunaan yang buruk atas sumber daya konservasi yang sangat dibutuhkan untuk melindungi kuda nil biasa di Afrika,” tulis Hammer.
Opsi lainnya adalah kastrasi atau kebiri. Akan tetapi, menurut Cooke, program kastrasi kuda nil memerlukan biaya sangat tinggi dan prosesnya memakan waktu cukup panjang, karena penangkapan kuda nil hingga hewan itu berada dalam keadaan tenang memakan waktu berjam-jam. Oleh sebab itu, opsi ini juga bukan solusi yang mudah untuk mengatasi jumlah kuda nil yang terus bertambah di Kolombia.*



















Komentar