- 3 jam yang lalu
- 3 menit membaca
SEBAGAI daerah dengan banyak orang Belanda, Sulawesi Selatan di zaman pendudukan Jepang punya banyak orang Eropa yang menjadi tawanan perang. Mereka tersebar di berbagai kamp di Sulawesi Selatan.
Kampili adalah salah satu kamp di sana. Isinya perempuan dan anak-anak. Yang bertanggungjawab di sana Sersan Yamadji dan seorang pembantu yang bisa dipukuli Yamadji jika kinerjanya tidak sesuai standar dan harapan Yamadji.
Seorang bekas tukang daging yang juga jadi pemuka agama, yang disapa sebagai Bapak Beltjens, ditempatkan di sana. Ia sebelumnya ditugaskan di kamp Pare-pare. Bermodalkan beberapa ekor babi yang kakinya patah karena terguncang-guncang di atas truk waktu dalam perjalanan menuju kamp, sebuah peternakan babi lalu diadakan di dalam kamp itu.
"Dan saya menyembelih sebanyak mungkin ketika Yamadji sedang bepergian,” aku Bapak Beltjens di koran Limburgsch Dagblad tanggal 14 Maret 1963.
Daging babi tentu jadi hidangan mewah bagi orang-orang Eropa di masa sulit itu. Proteinnya amat berguna bagi tubuh para penghuni kamp yang umumnya kurang gizi.
Bagi Beltjens dan lainnya, Sersan Yamadji adalah orang baik. Hanya saja, alam pikiran fasisnya membuatnya sulit untuk berpikir jernih. Jika sedang berdebat, dia selalu berusaha mematikan lawan debatnya dengan ancaman. Pernah suatu kali Yamadji marah ketika kalah debat dari Beltjens.
“Kau menghinaku. Kau akan dihukum,” ancam Yamadji kepada Beltjens.
Sebagai kelanjutannya, tubuh Beltjens diikat pada sebuah tiang dan dijemur di bawah terik matahari di dekat kantor Yamadji dengan hanya bercelana pendek. Sebetulnya Beltjens hendak diberi hukuman cambuk, namun segerombolan perempuan Eropa penghuni kamp mengganggu.
“Kau boleh memukul salah satu dari kami jika perlu, tetapi jangan seorang pastor,” kata salah satu perempuan itu kepada Yamadji.
“Kalau begitu pendeta itu harus berdiri tegak selama dua puluh empat jam,” teriak Yamadji pada tawanan lain.
“Jika kau melakukannya, kami akan berdiri di sampingnya,” jawab penghuni kamp.
Penderitaan Beltjens pun terulur. Yamadji yang malu kepada perempan-perempuan itu lalu pergi dengan sepeda menjauhi Beltjens. Pada hari-hari berikutnya, Beltjens tak lagi didekati apalagi diperintahi oleh Sersan Yamadji.
Sersan Yamadji adalah anggota Tokeitai, polisi militer Angkatan Laut Kekaisaran Jepang Jepang (Kaigun). Di zaman pendudukan Jepang, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Armada Selatan Kedua Kaigun. Komandonya pusatnya berada di Makassar. Umumnya, penjaga kamp tawanan sangatlah kejam. Mereka tak lebih baik daripada Yamadji.
“Dia mungkin yang terbaik dari semuanya,” kata bekas penghuni Kamp Kampili yang kemudian bebas setelah Agustus 1945.
Meski begitu, kebaikan Yamadji di Kampili tak mampu membuatnya lepas dari jeratan hukum tentara Sekutu. Mahkamah militer Sekutu kemudian mengadilinya. Pada 1947, seperti diberitakan Algemeen Indisch Dagblad tanggal 23 Juli 1947, Mahkamah Militer Sementara di Makassar menjatuhkan sejumlah hukuman terhadap penjahat perang Jepang. Ada sembilan orang yang dihukum mati, lalu beberapa dihukum antara 5 hingga 20 tahun, dan hanya satu terdakwa dibebaskan. Yamadji yang semula dituntut oditur hukuman 10 tahun penjara, kemudian divonis hakim hanya tujuh tahun penjara. Selama persidangan, disinggung tentang kontrasnya perlakuan Sersan Yamadji ketika di kamp perempuan Kampili dengan perlakuannya kepada tawanan di kamp laki-laki di Pare-pare. Yamadji dianggap berlaku kejam di kamp yang dihuni tawanan perang laki-laki.
Tak semua penjahat perang di wilayah Armada Selatan Kedua berhasil diseret dan dihukum di mahkamah militer sementara bentukan Sekutu. Letnan Yoshimoera, seorang perwira Tokeitai, setelah menyerahnya Jepang hanya dijadikan mandor penggali di daerah yang diperkirakan lubang pembantaian tentara Jepang.
Pada 11 Agustus 1946, di daerah Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, penggalian dilakukan atas bantuan petunjuk warga lokal keturunan Sulawesi Selatan bernama Baco. Lantaran Baco tak tahu pasti letak kuburan korban perang yang dibunuh Jepang, penggalian dilakukan secara acak. Namun, kemudian ditemukan lima makam dari orang-orang yang dulu dieksekusi dengan cara dipenggal oleh tentara Jepang. De Nederlander tanggal 7 September 1946 dan Het Dagblad tanggal 10 September 1946 memberitakan, di antara jasad yang ditemukan terdapat jasad Philip Mcweene, awak udara Amerika Serikat.
Penemuan itu mengguncang Letnan Yoshimoera. Sekujur tubuhnya gemetar hingga malamnya ia memutuskan hal yang tidak diinginkan tentara Sekutu. Letnan Yoshimoera malam itu membersihkan selnya dan mengenakan pakaian terbaiknya. Setelahnya, ia menggantung diri dengan tali kelambu. Sebuah pesan tulisan tangan lalu ditemukan.
“Sebenarnya, saya seharusnya bunuh diri di akhir perang, tetapi atas perintah Yang Mulia Jenderal Besar, saya tidak melakukannya,” demikian bunyi pesan itu.


















Komentar