- 1 jam yang lalu
- 3 menit membaca
BERAGAM cara dilakukan Amerika Serikat untuk memenangkan perang di Vietnam yang berlangsung sejak 1955 hingga 1975. Salah satunya dengan psywar menggunakan propaganda, manipulasi informasi, ancaman, atau tekanan mental untuk memengaruhi emosi dan sikap Viet Cong, pasukan gerilya komunis Vietnam Utara yang melawan pemerintah Vietnam Selatan.
Salah satu taktik perang non-fisik adalah memanfaatkan para pembelot dari Viet Cong untuk membujuk rekan-rekannya agar bergabung dengan pasukan Vietnam Selatan yang didukung Amerika.
Menurut jurnalis Inggris, Tom Mangold dan John Penycate, dalam The Tunnels of Cuchi: A Harrowing Account of America’s “Tunnel Rats” in the Underground Battlefields of Vietnam, jika seorang Viet Cong dibujuk membelot dan menjadi Hoi Chanh, pembelotannya dimanfaatkan untuk tujuan propaganda sesegera mungkin. Ia dipaksa merekam pesan untuk meyakinkan rekan-rekannya agar keluar dari persembunyiannya. Taktik ini semakin mudah dilakukan dengan penemuan sistem Early Word oleh perwira Big Red One.
“Penemuan ini memberi dampak yang cukup signifikan karena menghilangkan kebutuhan bagi Hoi Chanh untuk merekam pesan. Para pembelot bisa diperintahkan untuk membujuk mantan rekan-rekannya untuk bergabung dengannya secara langsung setelah ia diterima oleh pasukan Amerika atau Vietnam Selatan –bahkan di tengah pertempuran,” tulis Mangold dan Penycate.
Jika Hoi Chanh dapat memberikan informasi letak persembunyian rekan-rekannya, ia akan diberi set radio lapangan PRC-25 dan diperintahkan untuk memanggil nama-nama mantan rekannya secara langsung agar menyerah. Sinyal darat itu diterima oleh tim di helikopter yang terbang mengitari area tersebut dan menyiarkan suara si Hoi Chanh kepada musuh yang bersembunyi.
“Sistem ini otomatis dan hanya memerlukan seorang pilot di helikopter,” jelas Mangold dan Penycate.
Militer Amerika juga memanfaatkan pengeras suara untuk menyiarkan “siaran seruan keluarga” untuk menumbuhkan perasaan nostalgia sehingga para serdadu Viet Cong merindukan rumah dan keluarganya yang lama tak ditemui karena bergerilya di hutan. Perasaan rindu rumah dan keluarga inilah yang diharapkan akan membuat serdadu-serdadu itu membelot ke Vietnam Selatan atau Amerika Serikat.
Siasat lain untuk melemahkan semangat bertempur tentara Viet Cong dengan mengeksploitasi emosi melalui rasa takut akan kematian. Taktik ini disebut Wandering Soul Operations.
Gregory R. Clark dalam Words of the Vietnam War menjelaskan, strategi itu disebut sebagai “operasi jiwa-jiwa yang tersesat”. Amerika Serikat memanfaatkan kepercayaan orang Vietnam bahwa orang yang meninggal dunia harus dimakamkan secara layak. Sebab, jika tidak, rohnya akan bergentayangan untuk meminta bantuan agar keluarga atau kerabat mencari jasadnya kemudian memakamkannya dengan layak.
“Orang Vietnam sangat percaya takhayul mengenai kematian. Salah satu ketakutan mendasar orang Vietnam adalah dikuburkan di kuburan tanpa tanda. Penguburan yang tidak layak seperti itu tidak akan memungkinkannya bersatu kembali dengan leluhurnya atau memungkinkan keluarganya untuk menghormati kuburannya,” tulis Clark.
Menurut Victor Ghost dalam The Haunted Tape: How the US Military Used Ghosts to Fight the Viet Cong, pembuatan rekaman Ghost Tape Nomor 10 ini melibatkan psikolog militer dan ahli teknologi audio. Para spesialis ini memahami kebutuhan untuk menciptakan pengalaman audio yang mengerikan dan relevan secara budaya. Untuk menunjang operasi ini, mereka memanfaatkan teknologi perekaman canggih bersamaan dengan teknik tradisional untuk memperkuat keaslian suara.
Rekaman Ghost Tape Nomor 10 terdiri dari rekaman palsu suara tentara Vietnam yang tewas dan jenazahnya tak dimakamkan dengan layak. Suara-suara tersebut diolah dengan efek gema yang mengerikan dan diputar melalui pengeras suara di helikopter yang berpatroli di hutan. Selain itu, rekaman juga mendengungkan suara “arwah” kerabat atau anggota keluarga serdadu Viet Cong. Rekaman suara “hantu-hantu yang tersesat” itu diputar di malam hari untuk membuat serdadu Viet Cong gelisah dan ketakutan.
“Naskah terjemahan untuk Wandering Soul Operations memberikan wawasan yang menarik. Suara-suara yang diklaim sebagai kerabat yang telah meninggal memohon kepada pasukan Viet Cong untuk pulang ke rumah sebelum terlambat,” tulis Andy Sharp dalam The English Heretic Collection: Ritual Histories, Magickal Geography.
Rekayasa psikologis itu terkesan efektif karena berlandaskan pada kepercayaan orang Vietnam akan kematian. Atas dasar ini Amerika meyakini rencananya akan berhasil melemahkan emosi dan persepsi pasukan Viet Cong. Namun, operasi jiwa-jiwa yang tersesat itu tidak benar-benar efektif, justru menjadi senjata makan tuan bagi Amerika dan Vietnam Selatan.*


















Komentar