top of page

Dua Saudara Kembar Jadi Marinir di Surabaya

Pria kembar Belanda yang mengalami pendudukan Nazi nyaris kehilangan nyawa di Surabaya. Keduanya bagian dari Brigade Marinir Belanda yang terkenal kejam.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para serdadu Belanda beraksi dalam agresi militer di Jawa Timur, tempat banyak marinir Belanda berperan. (Nationaal Archief/Wikipedia.org)

  • 28 Mei
  • 3 menit membaca

SETELAH Negeri Belanda dibebaskan tentara Sekutu dari pendudukan tentara Jerman-Nazi, rakyat Belanda lega. Mereka terbebas dari lima tahun pendudukan tentara Jerman. Hal itu dialami juga oleh Gerrit dan Jacob Bruinsma, putra pria Belanda bernama Hendrik Bruinsma. Keduanya bahkan bisa “berkelana” ke tempat yang ribuan mil jauhnya dari negeri mereka.

 

Gerrit dan Jacob adalah sepasang anak kembar. Mereka sama-sama lahir di Hoensbroek pada hari yang sama, 23 Maret 1927. “Tapi, aku sepuluh menit lebih tua, kan!” kata Jacob Bruinsma di koran De Limburgsch Dagblad tanggal 6 September 1947 dan Helmond Courant tanggal 13 September 1947.

 

Keduanya bersekolah bersama-sama di sekolah dasar di Treebeek. Gerrit dan Jacob juga sama-sama menyelesaikan sekolah menengah pertama di zaman Perang Eropa. Di masa pendudukan Jerman, Gerrit dan Jacob bekerja di pertambangan Emma.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page