top of page

Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam Pusaran Kudeta

Jenderal Soedirman mendukung Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka. Namun, dia kemudian meninggalkan kawan sehaluan setelah terjadi peristiwa kudeta 3 Juli 1946.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Panglima Besar Jenderal Soedirman tiba di Stasiun Gambir, Jakarta, 1 November 1946. (Nationaal Archief).

20 Jul
9 menit membaca

NAMA Panglima Besar Jenderal Soedirman dicatut ketika Jenderal Mayor Soedarsono “menodong” Presiden Sukarno dengan petisi untuk membubarkan Kabinet Sjahrir. Wakil Presiden Mohammad Hatta datang menginterupsi. Dia tak percaya pada ucapan Soedarsono. Buru-buru Hatta meraih saluran telepon menghubungi Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, Kepala Staf Umum Tentara Republik Indonesi. Dalam ketentaraan Republik, Oerip adalah orang kedua setelah Jenderal Soedirman.


“Sesudah aku kembali ke kamar tempat berunding itu, kukatakan bahwa aku baru saja bicara dengan Jenderal Oerip dan dia mengatakan, mustahil Panglima Besar Soedirman menulis surat semacam itu kepada Presiden,” kata Hatta dalam Memoir.


Aksi koboy Soedarsono kemudian dikenal sebagai Peristiwa 3 Juli 1946. Peristiwa ini disebut sebagai kudeta pertama dalam sejarah Republik Indonesia. Alih-alih berhasil mendongkel Kabinet Sjahrir, para pelaku kudeta itu mendekam dalam penjara dengan masa tahanan bervariasi, tergantung kadar keterlibatan mereka.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page