- 20 Jul
- 9 menit membaca
NAMA Panglima Besar Jenderal Soedirman dicatut ketika Jenderal Mayor Soedarsono “menodong” Presiden Sukarno dengan petisi untuk membubarkan Kabinet Sjahrir. Wakil Presiden Mohammad Hatta datang menginterupsi. Dia tak percaya pada ucapan Soedarsono. Buru-buru Hatta meraih saluran telepon menghubungi Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, Kepala Staf Umum Tentara Republik Indonesi. Dalam ketentaraan Republik, Oerip adalah orang kedua setelah Jenderal Soedirman.
“Sesudah aku kembali ke kamar tempat berunding itu, kukatakan bahwa aku baru saja bicara dengan Jenderal Oerip dan dia mengatakan, mustahil Panglima Besar Soedirman menulis surat semacam itu kepada Presiden,” kata Hatta dalam Memoir.
Aksi koboy Soedarsono kemudian dikenal sebagai Peristiwa 3 Juli 1946. Peristiwa ini disebut sebagai kudeta pertama dalam sejarah Republik Indonesia. Alih-alih berhasil mendongkel Kabinet Sjahrir, para pelaku kudeta itu mendekam dalam penjara dengan masa tahanan bervariasi, tergantung kadar keterlibatan mereka.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















