- 1 jam yang lalu
- 4 menit membaca
“LOREM ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit...” Sering mendapati penggalan kalimat nonsense ini? Tak perlu Anda menerjemahkannya, karena rangkaian kata-kata itu tak ada maknanya.
Kalimat zonder arti itu seringkali kita dapati di sekolah, kampus, ataupun berbagai tempat kerja. Gunanya sebagai peraga penempatan teks dan lazim digunakan agar si pembuat atau penanggap lebih fokus kepada desain tata letak, bukan terhadap isi tulisan atau makna kata-kata peraganya.
“Kata-kata itu sudah digunakan mungkin sejak adanya kemajuan (teknologi) percetakan, dan sejatinya berasal dari penggalan kalimat Latin karya Cicero. Teks itu menyalin karya Cicero yang hilang awalan katanya atau beberapa diacak (susunan katanya) atau dibuat salah ejaannya,” ungkap pakar bahasa Latin, Simon R.H. James, dalam A Smattering of Latin.
Cicero yang dimaksud adalah Marcus Tullius Cicero. Filsuf sekaligus negarawan Romawi Kuno yang hidup antara tahun 106-43 Sebelum Masehi (SM). Adapun penggalan “lorem ipsum” terdapat dalam salah satu karya filsafatnya, De finibus bonorum et malorum (Tentang Batas-Batas Kebaikan dan Kejahatan).
Karyanya itu diterbitkan pada musim panas 45 SM, dua tahun sebelum kematian Cicero. Terdiri dari tiga dialog Sokratik yang dibeberkan dalam lima buku: Liber Primus, Liber Secundus, Liber Tertius, Liber Quartus, dan Liber Quintus.
“Tepat setelah (karya) Academica, pada 45 SM, terbit lima buku, ‘De Finibus Bonorum et Malorum’, ditulis seolah-olah dengan tujuan menyelesaikan seluruh kontroversi dan menyatakan apakah kebenaran terletak pada kaum Epikurean, Stoik, atau Akademikus. Pada akhirnya, apa yang merupakan hal baik dan hal jahat, dan bagaimana kita mendapatkan yang satu dan menghindari yang lain,” tulis sastrawan Inggris, Anthony Trollope, dalam The Life of Cicero: Volume 2.
Adalah Dr. Richard McClintock, pakar bahasa Latin di Hampden-Sydney College, yang pertamakali melacak keterkaitan istilah “Lorem ipsum” itu dengan karya Cicero pada awal 1980-an. Rangkaian kata-kata asli dari karya Cicero itu terdapat dalam buku pertama De finibus bonorum et malorum. Bunyinya:
qui dolorem ipsum, quia dolor sit amet consectetur adipiscing velit, sed quia non numquam do eius modi tempora incididunt, ut labore et dolore magnam aliquam quaerat voluptatem. Ut enim ad minima veniam, quis nostrum] exercitationem ullam corporis suscipit laboriosam, nisi ut aliquid ex ea commodi consequatur? Quis autem vel eum irure reprehenderit, qui in ea voluptate velit esse, quam nihil molestiae consequatur, vel illum, qui dolorem eum fugiat, quo voluptas nulla pariatur?
(Demikian pula, tidak adakah orang yang mencintai atau mengejar atau ingin mengalami penderitaan, bukan semata-mata karena penderitaan itu sendiri, tetapi karena sesekali terjadi keadaan di mana susah-payah dan penderitaan dapat memberikan kepadanya kesenangan yang besar. Sebagai contoh sederhana, siapakah di antara kita yang pernah melakukan pekerjaan fisik yang berat, selain untuk memperoleh manfaat daripadanya? Tetapi siapakah yang berhak untuk mencari kesalahan pada diri orang yang memilih untuk menikmati kesenangan yang tidak menimbulkan akibat-akibat yang mengganggu, atau orang yang menghindari penderitaan yang tidak menghasilkan kesenangan?).

Diacak Sejak Abad ke-16
Penggunaan kata-kata acak asal karya Cicero itu sudah mulai dipakai semenjak eksisnya huruf lepas. Dalam percetakan, teknologi itu bermula dari abad ke-15, dengan produksi Alkitab Gutenberg sebagai buku cetak pertama yang diproduksi massal dengan menggunakan huruf lepas pada 1455.
“Teknik cetak inovatif itu mempergunakan karakter-karakter (berbahan) timah, merevolusi bagaimana teks diproduksi dan disebarluaskan selama Renaissance (Abad 15-16 Masehi, red.). Teks asalnya dari karya Cicero ‘De Finibus Bonorum et Malorum’, sengaja diubah oleh pihak-pihak percetakan untuk menciptakan teks pengisi yang mempertahankan alur bahasa alami tanpa memberikan makna yang dapat dipahami,” terang Samuel Trent dalam Scrambled Latin: The Typographic Evolution of Lorem Ipsum.
Penggunaan “lorem ipsum”, lanjut Trent, membuat percetakan-percetakan bisa menyusun halaman-halaman dengan estetika tipografis yang familiar. Pada saat bersamaan, penggunaannya juga untuk menghindari gangguan-gangguan kognitif jika isi teksnya punya makna-makna tertentu.
“Seiring teknologi percetakan berevolusi, iterasi dari karya Cicero yang diacak itu terus digunakan untuk desain-desain tata letak, termasuk saat terjadi transisi dari penataan huruf berbahan timah ke bentuk-bentuk modern. Bermula dari kemunculan teknologi transfer kering,” imbuhnya.
Evolusi penggunaannya terus berlangsung. Pada 1961, pendorongnya adalah kemunculan teknologi baru dari perusahaan manufaktur stiker transfer kering asal Inggris, Letraset, yang merilis Letraset Type Lettering System. Kemunculan lembaran-lembaran transfer kering Letraset menandai titik penting evolusi Lorem Ipsum.
Para desainer grafis secara luas mengadopsi teknologinya. Itu memudahkan proses penciptaan tata letak dengan begitu cepat dan fleksibel karena tidak lagi diperlukan mesin cetak dengan karakter-karakter huruf berbahan timah untuk menempatkan teks pada sebuah halaman yang mereka rancang.
“Dalam lingkungan itu, Lorem Ipsum mendapatkan statusnya sebagai elemen rancangan yang mutlak diperlukan. Teks pseudo-Latin itu menjadi peraga ideal, membuat para profesional yang kreatif bisa fokus pada komposisi dan pengaturan spasial ketimbang menguraikan bahasanya. Transisi ini mendemonstrasikan betapa sebuah teks dari berabad-abad lampau begitu mulus beradaptasi pada kebutuhan desain modern yang serba cepat,” tambah Trent.
Di “jagat” media digital, perusahaan perangkat lunak Aldus yang pertamakali memperkenalkannya pada 1985 dalam template grafis dan pengolahan kata untuk program penerbitan mejantaranya, PageMaker. Kelak, penerbitan mejantara ini digunakan Apple dan Adobe.
“Transformasi besar lainnya ditandai di era digital, di mana perangkat lunak seperti Adobe Creative Suite dan beberapa aplikasi jaringan desain lain bermunculan. Para desainernya mengadopsi Lorem Ipsum untuk tetap fokus pada elemen visual tanpa gangguan makna konten. Pengaturan kata secara digital untuk penyesuaian instan Lorem Ipsum juga memudahkan para perancang menciptakan pengisi ruang yang unik dan cocok untuk proyek-proyek tertentu dan dalam waktu bersamaan mempertahankan tujuan awal teksnya. Kemampuan beradaptasi melayani kebutuhan kontemporer para pengguna, mempertahankan hierarki visual yang mengoptimalkan integritas desain, membuktikan sekali lagi bahkan teks pengisi ruang kuno bisa bersanding dengan kemajuan teknologi,” lanjutnya.
Namun, belum banyak yang tahu makna maupun keterkaitan sejarahnya Lorem ipsum. Adalah Dr. Richard McClintock, pakar bahasa Latin dari Hampden-Sydney College, Virginia, Amerika Serikat, yang mengaitkannya dengan karya Cicero pada 1982. Pada medio 1994, McClintock ikut mengirim surat kepada majalah Before & After untuk mengoreksi.
Koreksian McClintok dikirim untuk membantu seorang editor majalah itu. Sebelumnya, sang editor membalas surat pembaca yang menanyakan apa arti “Lorem ipsum” dengan jawaban mengambang bahwa frasa itu mirip bahasa Latin namun tak ada artinya. McClintock lalu mengoreksinya.
“Apa yang saya temukan (pada riset 1982) sungguh luar biasa. Bahwa teks itu sudah jadi peraga standar industri sejak para penerbit pada 1500-an mengambil penggalan-penggalannya (karya Cicero) dan mengacaknya untuk membuat contoh buku; tradisi itu bertahan tak hanya bertahan empat abad dalam mengolah huruf per huruf namun juga melompat sampai ke pengolahan huruf elektronik,” tukas McClintock, dikutip Adrian Shaughnessy dalam Graphic Design: A User’s Manual.*



















Komentar