top of page

Mula Lorem Ipsum

“Lorem ipsum” yang bertahan berabad-abad, bermula dari karya filsuf Romawi Kuno, hingga kini tak tergantikan jadi elemen penting desain grafis.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi penggunaan "Lorem Ipsum" dalam sebuah desain grafis (Randy Wirayudha/Historia.ID)

  • 4 Jun
  • 4 menit membaca

LOREM ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit...” Sering mendapati penggalan kalimat nonsense ini? Tak perlu Anda menerjemahkannya, karena rangkaian kata-kata itu tak ada maknanya.


Kalimat zonder arti itu seringkali kita dapati di sekolah, kampus, ataupun berbagai tempat kerja. Gunanya sebagai peraga penempatan teks dan lazim digunakan agar si pembuat atau penanggap lebih fokus kepada desain tata letak, bukan terhadap isi tulisan atau makna kata-kata peraganya.


“Kata-kata itu sudah digunakan mungkin sejak adanya kemajuan (teknologi) percetakan, dan sejatinya berasal dari penggalan kalimat Latin karya Cicero. Teks itu menyalin karya Cicero yang hilang awalan katanya atau beberapa diacak (susunan katanya) atau dibuat salah ejaannya,” ungkap pakar bahasa Latin, Simon R.H. James, dalam A Smattering of Latin.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo menjadi menteri luar negeri pertama tetapi tidak berlangsung lama. Setelah berganti pemerintahan, Subardjo hidup dari penjara ke penjara semasa revolusi.
transparant.png
bottom of page