top of page

Plus-Minus Belajar Sejarah dengan AI

Tidak hanya untuk menganalisis data, AI juga memungkinkan simulasi sejarah hingga ngobrol dengan tokoh sejarah.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi pembelajaran dengan AI atau kecerdasan buatan. (UNESCO).

22 Okt 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 9 Jan

ARTIFICIAL Intelligence (AI) alias Kecerdasan Buatan –atau ada yang menyebutnya Akal Imitasi (AI)– jadi lompatan teknologi tak terhindarkan yang mengisi banyak ruang kehidupan, salah satunya pendidikan. Kendati tetap ada plus-minus yang mesti diperhatikan, AI sangat mungkin diterapkan pula dalam pembelajaran sejarah. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page