top of page

Pembela Buruh Perempuan

Setiati Surasto memperjuangkan hak-hak buruh perempuan. Dia juga berkiprah dalam gerakan buruh internasional. Berakhir sebagai eksil.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Setiati Surasto (ketiga dari kiri) sebagai ketua delegasi ketika tiba di Uni Soviet. (Mimbar Penerangan Tahun VII No. 8, Agustus 1956).

  • 31 Mei
  • 8 menit membaca

KETERLIBATAN Setiati dalam serikat buruh berawal dari tawaran seorang lelaki yang tak dikenal. Saat itu, Setiati bekerja sebagai asisten Ki Hadjar Dewantara di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sejak masa pendudukan Jepang.


Lelaki itu bernama Njono dari Domei, kantor berita Jepang, yang membuat Setiati curiga. Namun, Njono murid Ki Hajar Dewantara di Taman Siswa. Dia minta izin kepada Ki Hadjar untuk berbicara dengan Setiati.


“Katanya dia dengar saya pimpinan Pekerja Perempuan Indonesia. Dia minta saya masuk ke serikat buruh, tadinya saya enggak mau. Tapi dia kemukakan bagaimana kondisi buruh wanita yang menderita, nah cocok sama saya. Saya masuk,” kata Setiati kepada Hersri Setiawan sebagaimana dimuat dalam tulisan di GerakIngatan. Setiati mendapat tugas membentuk serikat buruh di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page