top of page

Soekaesih Bersuara di Belanda

Soekaesih dibuang ke Boven Digoel karena dianggap berbahaya. Setelah bebas, ia bersuara di Belanda menuntut penutupan kamp-kamp konsentrasi di Indonesia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Raden Soekaesih (tengah) dan suaminya, J.H. Philippo tiba di Belanda pada 1937. (Het Volksdagblad: Dagblad voor Nederland, 14 Oktober 1937).

29 Sep 2022
3 menit membaca

Diperbarui: 24 Apr

SENIN malam, November 1937. Seorang wanita bertubuh mungil berbicara menggunakan bahasa Melayu di hadapan orang-orang Belanda di aula besar Lybelle, Rotterdam. Ia menceritakan pengalamannya selama ditahan bertahun-tahun di kamp Boven Digul, Papua. Wanita asal Indonesia itu bernama Raden Soekaesih.


Pidato Soekaesih, yang diterjemahkan oleh G.J. van Munster, tak hanya mengisahkan penderitaannya selama menjadi tahanan di kamp Digul. Ia juga menuntut agar kamp-kamp konsentrasi seperti kamp Digul ditutup.


Soekaesih sontak menjadi sorotan publik Belanda. Tak sedikit masyarakat yang bersimpati atas pengalaman pahit yang dilaluinya. Pidatonya diberitakan banyak surat kabar di Belanda.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s long journey to fight for justice for women came to a halt during the Japanese occupation.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
Apa yang bisa didapatkan dari perang? Mungkin kuasa, bisa juga kebanggaan. Yang pasti, derita  korban.
Apa yang bisa didapatkan dari perang? Mungkin kuasa, bisa juga kebanggaan. Yang pasti, derita  korban.
Pandemi COVID-19 berimbas pada Olimpiade Tokyo. Seolah mengulang cerita kelam 80 tahun silam meski penyebabnya berbeda.
Pandemi COVID-19 berimbas pada Olimpiade Tokyo. Seolah mengulang cerita kelam 80 tahun silam meski penyebabnya berbeda.
Ini perkara duit. Teryata duit dari zaman dahulu kala selalu bikin jadi perkara.
Ini perkara duit. Teryata duit dari zaman dahulu kala selalu bikin jadi perkara.
Pameran ilustrasi sejarah gerakan kaum kiri di Indonesia. Menyajikan narasi masa lalu lewat karya seni.
Pameran ilustrasi sejarah gerakan kaum kiri di Indonesia. Menyajikan narasi masa lalu lewat karya seni.
Bukan mangkrak, museum ini cuma butuh dana dan komitmen yang besar. Butuh dana 40 milyar lagi.
Bukan mangkrak, museum ini cuma butuh dana dan komitmen yang besar. Butuh dana 40 milyar lagi.
Pembangunan Museum Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)  di Koto Tinggi bukan mangkrak namun hanya “membutuhkan dana dan komitmen besar” dari berbagai pihak yang terlibat dalam pekerjaan ini.
Pembangunan Museum Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Koto Tinggi bukan mangkrak namun hanya “membutuhkan dana dan komitmen besar” dari berbagai pihak yang terlibat dalam pekerjaan ini.
transparant.png
bottom of page