top of page

Sontani, Pelopor Pelarian dari Kamp Boven Digoel

Pelarian Sontani menjadi yang pertama dan terlama yang pernah dilakukan dari kamp Boven Digoel.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para tahanan di barak kamp interniran di Tanahmerah, Boven Digoel, 1927. (Wikimedia Commons).

6 Nov 2019
4 menit membaca

Diperbarui: 20 Apr

“Son! Tok! tok! tok! Sontani…!”


“Hai, siapakah itu?"


“Ssst! Lupakah kau? Aku Saleh.”


“O, ya…! Silahkan masuk! Tunggulah sebentar!”


“Mengapa, tadi tidak bersedia lebih dulu?”


“Mana boleh, tidak bersedia lebih dulu. Lihatlah ini, sudah mulai tadi aku berpakaian, waktu tidur masih juga bersepatu.”


Semua perlengkapan telah disiapkan. Parang panjang dan botol minum di pinggang. Bekal telah terbungkus karung. Topi dikenakan dan kapak besar dipanggul. “Mari!” kata Sontani kepada Saleh.


Mereka pun bergegas menuju ke belakang rumah dan masuk ke dalam hutan rimba. Maka dimulailah perjalanan Sontani dan Saleh, kabur dari Boven Digoel!

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page