top of page

Menjadi Gila Akibat Isolasi di Digoel

Selain menderita karena beragam penyakit, para Digoelis juga harus menghadapi gangguan psikis hingga menjadi gila.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tanah Tinggi, Boven Digoel. (Repro Boven-Digoel).

27 Mar 2020
3 menit membaca

Diperbarui: 20 Apr

DI BOVEN Digoel, para tahanan politik memang tidak disiksa secara fisik oleh aparat kolonial. Mereka dibiarkan hidup dalam kamp yang terisolasi alam Papua. Serangan terhadap psikis sama bahayanya dengan malaria maupun diterkam buaya.


Menurut Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul menyusuri hutan bukan menjadi piihan yang menyenangkan bagi sebagian besar tahanan. Dari Tanah Merah misalnya, jika masuk hutan ke arah utara mereka akan sampai di Kamp Tanah Tinggi yang dihuni oleh orang-orang buangan yang tidak mau berdamai dengan penguasa. Tempat ini tentunya amat lebih buruk dari Tanah Merah.


“Begitupun kita boleh jalan ke arah timur melalui pos missi Ninati yang terletak di Sungai Muyu. Tapi juga perjalanan ini tidak memberi hiburan! Maka kebanyakan penghuni memilih tetap tinggal 'di rumah saja', daripada bertualang yang tidak menyenangkan,” kata Chalid Salim.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page