- 4 hari yang lalu
- 2 menit membaca
DI BIVAK Cot Dah, Lhokseumawe, Aceh antara 6-8 Juli 1899, seorang fuselier (prajurit infanteri) asal Ambon dengan nomor stamboek 54784 melapor kepada komandan peletonnya bahwa dirinya sedang sakit.
Alih-alih mendapatkan izin, prajurit dari Batalyon Infanteri ke-3 Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) itu malah dipukuli oleh sersan di peleton tersebut. Setelah dipukuli, prajurit bernama Kamby itu segera ditugaskan berjaga.
Kamby harus terus waspada terhadap serangan para pejuang Aceh yang menjadi musuh pemerintah kolonial meski tubuhnya sedang sakit. Tugas itu tetap diselesaikannya. Setelah berjaga, Kamby dilaporkan hilang.
Sumatra Courant, 7 September 1899, memberitakan, Prajurit Kamby membelot pada malam tanggal 6 menjelang 7 Juli. Kamby yang kabur membawa senjata terbilang canggih itu langsung dicap desertir oleh militer Belanda.
Kamby, disebut De Avondpost, 28 September 1903, telah beberapa tahun menjadi serdadu di Aceh. Dia berpindah-pindah kesatuan selama bertugas dan berperang di Aceh. Het Vaderland, 29 Oktober 1903, menyebut Kamby penembak jitu yang terampil.
Kamby membelot ke orang Aceh jejaring Panglima Polem, panglima perang Aceh yang sangat berpengaruh di daerah bekas Kesultanan Aceh yang telah dihancurkan pemerintah kolonial. Kamby membawa amunisi cukup banyak, sehingga pembelotannya amat menguntungkan Aceh.
Kamby memulai hidup baru. Diberitakan De Nieuwe Courant, 3 Februari 1904, Kamby mengaku tak sadar ketika dibawa oleh orang Aceh. Dia terbaring sakit selama 16 hari di Desa Paja Bakun. Pemuka orang Aceh di situ adalah Tengku Ie di Mata.
Setelah bergaul dengan orang-orang Aceh, Kamby yang beragama Kristen memutuskan menjadi muslim. Namanya berganti menjadi Djohan.
Dari Paja Bakun, Kamby dibawa ke Blang Si Alif. Di sana dia berada di bawah perintah Teungku di Barat Alui Djalingen.
Kamby dengan kemampuan dan kelebihannya diandalkan pihak Aceh dalam melawan Belanda. Hanya saja, di masa awal bersama orang Aceh, dia tidak membawa senapan canggihnya sendiri.
Sebaliknya, pembelotan Kamby merugikan militer Belanda bahkan sampai marah. “Dia bertanggung jawab atas kematian atau cedera banyak mantan rekannya,” kata perwakilan militer Belanda, dikutip Het Vaderland, 29 Oktober 1903. Tak hanya itu, militer Belanda juga melakukan pembunuhan karakter dengan menyebutnya “tidak kompeten secara mental.”
Kamby disebut berlaku aneh sebagai militer. Ketika masih bertugas, dia diacuhkan para atasannya. Numun, Kamby yang berada ada di pihak lawan juga dianggap berbahaya oleh militer Belanda.
Tuduhan Kamby menyebabkan luka dan kematian kawan-kawannya di KNIL dibantah orang Aceh. De Nieuwe Courant, 3 Februari 1904, menyebut, Tuanku Raja Menkuta, kepala kampung terkenal di Aceh, menyatakan bahwa Kamby tidak pernah berpartisipasi dalam pertempuran apa pun. Bahkan, dia dijaga dengan ketat oleh orang-orang Aceh.
Lebih dari tiga tahun Kamby bersama orang-orang Aceh. Akhirnya, pada 20 September 1903, Kamby menyerahkan diri di tangsi Paja Meundru, Pasai. Konon dia menyerah dengan sukarela.
Kamby yang orang Ambon dianggap pengkhianat oleh serdadu KNIL dari Ambon di Kotaraja (kini Banda Aceh), sehingga dijauhkan dari mereka. Serdadu-serdadu Ambon KNIL dikenal loyal terhadap Kerajaan Belanda, maka Kamby bisa dihabisi jika berada bersama mereka.
Sebagai prajurit desersi, hukuman berat menanti Kamby, setidaknya kurungan penjara. Kamby bukan satu-satunya serdadu KNIL yang desersi. Sersan Sersan Matheus, anak Kapten Carli, pernah desersi antara 1891-1896, lalu mati.*



















Komentar