- 1 jam yang lalu
- 3 menit membaca
SETELAH Nazi kalah dalam Perang Dunia II, Jerman diduduki negara-negara pemenang perang. Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis mengelola wilayah Jerman Barat, sementara Jerman Timur dikuasai Uni Soviet. Namun, ketegangan baru muncul antara Barat dan Timur yang menandai Perang Dingin.
Masing-masing mengerahkan mata-mata untuk mendapatkan informasi pengembangan sistem keamanan dan pertahanan. Misi mata-mata Barat yang produktif dan berpengaruh adalah Operasi Tamarisk.
Menurut Andrew Long dalam BRIXMIS and the Secret Cold War: Intelligence Collecting Operations Behind Enemy Lines in East Germany, Operasi Tamarisk adalah aksi mata-mata yang dilakukan dengan memilah sampah para tentara Soviet di wilayah Berlin Timur. Sampah-sampah itu umumnya robekan kertas yang digunakan serdadu Soviet untuk membersihkan diri setelah buang air.
Berbeda dengan tentara Barat yang mendapatkan ransum, termasuk tisu toilet, dalam jumlah cukup besar, serdadu Soviet sering kekurangan tisu toilet. Mereka menggunakan berbagai kertas, termasuk catatan mereka yang seringkali berisi informasi data-data rahasia negara, sebagai pembersih setelah buang air besar.
“Tentara Soviet tampaknya secara alami berantakan dan, tidak seperti rekan-rekan mereka dari Barat, tidak menjaga ruang kerja dan tempat tinggal mereka tetap bersih dan rapi. Sampah benar-benar dilemparkan ke luar pagar perimeter dan dibiarkan membusuk, menciptakan informasi yang melimpah bagi siapa pun yang cukup berani untuk memilah semuanya,” tulis Long.
Dalam militer Soviet, peta, manual, dan dokumen teknis diklasifikasikan, dan hanya tersedia bagi perwira, yang umumnya menjaga keamanan operasional dengan baik. Sementara prajurit akan diberi instruksi atau pengarahan mengenai peralatan dan taktik baru dalam kuliah formal. Mereka harus mencatat secara rinci di buku catatan.
Meskipun kuliah itu mengenai materi rahasia, catatan yang berisi informasi teknis tersebut justru tidak dianggap rahasia. Kertas-kertas itu yang dijadikan tisu toilet dikumpulkan mata-mata Barat untuk mencari informasi penting terkait rencana dan pengembangan militer Soviet.
Para pengumpul sampah mengumpulkan kertas tisu toilet pada tengah malam. Mereka memakai sarung tangan karet tebal, berusaha membersihkan kotoran di kertas dengan daun atau ranting sebelum menyimpannya dalam kantong kertas.
Saat musim dingin, kegiatan ini tidak menjadi masalah karena kotoran lebih mudah dikikis. Namun, di musim panas, bau busuk dari kertas tisu toilet menyebar ke mana-mana. Barang apa pun yang sangat bau ditangani dengan hati-hati dan dibungkus dua hingga tiga lapis.
Menurut Long, temuan berbau busuk ini menghasilkan banyak informasi. Catatan radio, dengan kode panggilan atau nama panggilan stasiun basis yang beragam, dapat dicocokan dengan intersepsi radio (SIGINT) untuk memahami informasi yang dibahas dengan lebih baik.
“Catatan pemeliharaan dapat memberikan informasi berharga tentang keandalan kendaraan dan umur mesin yang dikembangkan Soviet, sementara program latihan memberikan gambaran tentang kesiapan dan kemampuan para tentara,” tulis Long.
Salah satu informasi intelijen penting yang diambil dari sampah di lokasi latihan militer Soviet adalah rencana pertempuran yang mengungkap unit militer mana yang asli dan mana yang palsu, unit umpan ini dibuat untuk menipu Amerika Serikat dan Sekutu. Informasi ini berharga dalam mempersiapkan pasukan menghadapi perang sungguhan.
Informasi penting lain adalah pengembangan model baru tank tempur utama, T-80. Ketika tank tempur ini akan melakukan manuver di dekat Cottbus, tak jauh dari perbatasan dengan Polandia, anggota misi penghubung militer Inggris segera diterjunkan ke lokasi untuk memotret dan merekam suara mendesis berfrekuensi tinggi dari mesinnya. Hal ini mengungkapkan bahwa T-80 adalah tank Soviet pertama bertenaga mesin turbin gas.
Selain itu, informasi penting lain adalah deskripsi lapisan pelindung T-80 serta analisis kelebihan dan kelemahan tank tersebut, sehingga Inggris dapat mengembangkan senjata anti-tank baru.
Menurut Tony Geraghty dalam “The Ground Truth About Article 259”, yang termuat dalam First to Fight II, tugas tidak menyenangkan mencari harta karun dari tumpukan robekan kertas kotor berbau tidak sedap itu juga dikembangkan ke tempat pembuangan sampah lain.
Tim-tim yang dikerahkan untuk mengumpulkan barang-barang bekas pakai tentara Soviet, juga mengumpulkan perban bedah bekas dari tumpukan sampah di belakang rumah sakit Tentara Merah untuk analisis kimia, atau sekadar menggali limbah di belakang barak-barak Soviet.
Alih-alih kembali ke Uni Soviet, selama Perang Afghanistan, tentara yang terluka dikirim ke Jerman Timur untuk pemulihan. Para pencari harta karun bagi intelijen Barat memanfaatkan hal itu untuk mengumpulkan sampel peluru dan hal-hal lainnya untuk diteliti.
“Sampah rumah sakit tersebut mencakup anggota tubuh yang diamputasi akibat perang Soviet di Afghanistan. Luka bernanah dan fragmen peluru yang terkandung di dalamnya membuat ahli metalurgi CIA sibuk berhari-hari. Dibutuhkan perut yang kuat, masker wajah, dan sarung tangan karet untuk Operasi Tamarisk,” tulis Geraghty.
Meski dihadapkan dengan kotoran menjijikan dan bau tidak sedap, hasil yang didapatkan sepadan dengan pekerjaan tidak nyaman. Oleh karena itu, Operasi Tamarisk berlanjut hingga tahun 1980-an dan berakhir setelah Tembok Berlin runtuh dan Jerman bersatu pada Oktober 1990.*



















Komentar