- 2 Mei
- 6 menit membaca
Diperbarui: 22 jam yang lalu
“PEMILU tanpa kedaulatan.” Begitulah tajuk yang diungkit analis politik dan jurnalis Palestina, Mariam Barghouti, dalam opininya di Al Jazeera, 25 April 2026, “Elections without sovereignty: What Palestine’s local vote represents”, untuk mengomentari pemilu di di Palestina pada 25 April lalu.
Di tengah masifnya pembersihan etnis dalam rangka ekspansi pemukiman zionis Israel di Tepi Barat dan masih berlangsungnya genosida di Jalur Gaza, Kementerian Pemerintahan Lokal menggelar pemilu lokal. Pemilunya dihelat untuk memilih 4.097 anggota dewan di 403 otoritas distrik lokal Palestina, baik di Tepi Barat maupun Jalur Gaza, meski kemudian satu-satunya tempat pemilihan yang bisa dibuka di Jalur Gaza hanya berada di Deir el-Balah.
“Pemungutan suara dilakukan di segenap daerah pendudukan Tepi Barat, namun di Gaza hanya terbatas di satu kota: Deir el-Balah, menguak betapa terpecahnya lanskap politik dan geografi yang harus dialami warga Palestina. Konteks pemilu ini dasarnya tidaklah demokratis, bukan karena mereka tak bisa menggelar pemilu, melainkan warga Palestina berada di bawah kekuatan opresif yang bukan kemauan mereka,” tulis Mariam Barghouti.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















