- 56 menit yang lalu
- 3 menit membaca
KAMP interniran Salemba menjadi salah satu tempat interniran bagi warga Belanda di Jakarta semasa pendudukan Jepang. Salah satu penghuni kamp ialah seorang wanita Belanda penghuni rumah di Van Brenweg 19 (kini Jalan Latuharhary), Menteng, Jakarta Pusat. Ketika sang nyonya dalam interniran, rumahnya disewakan kepada Sutan Sjahrir.
“Rumah itu juga memiliki garasi, tempat Chairil Anwar seharusnya tinggal. Namun, pemilik Belanda itu menyimpan dua peti kayu besar (yang digunakan untuk pengiriman) di dalam garasi dan peti-peti itu terlalu berat untuk dipindahkan. Lagi pula, tidak ada ruang di dalam rumah untuk menaruhnya,” tutur Des Alwi dalam memoarnya, Friend and Exiles: A Memoir of the Nutmeg and the Indonesian Nationalist Movement.
Di rumah kawasan elite itu, Sjahrir tak tinggal sendirian. Sjahrir memboyong serta Des Alwi dan Lily, anak-anak angkatnya semasa pengasingan di Banda Neira. Turut menumpang pula keponakan Sjahrir, Chairil Anwar bersama ibunya, Saleha.
Sepupu jauh Sjahrir itu tak lama tinggal di sana. Saleha kemudian membuka usaha warung nasi di Jatinegara, namun karena kurang berhasil lantas pulang kembali ke Medan.
Des Alwi menggambarkan suasana di rumah Sjahrir yang cukup nyaman itu. Salah satu sisinya menghadap ke Sungai Ciliwung dan jalur kereta api Manggarai-Tanah Abang di sisi lainnya. Hanya kereta sesekali melintas yang mengganggu ketenangan.
Nyonya Belanda pemilik rumah, entah bagaimana, berhasil keluar dari kamp sebulan sekali untuk mengutip uang sewa rumahnya sebesar 60 gulden. Biaya sewa itu terbilang murah apalagi rumahnya sudah dilengkapi perabotan. Saban kali ketemu, nyonya rumah dan Sjahrir selalu akrab bercengkerama. Sjahrir berjanji akan menjaga dengan baik rumah dan perabotannya seperti miliknya sendiri.
Namun, Sjahrir ternyata tongpes alias kantong kempes. Dia tak punya kerjaan tetap karena menolak bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang. Sjahrir hanya beroleh sedikit sangu dari kawan-kawan seperjuangannya.
Menurut Lily, putri angkat Sjahrir kepada penulis biografi Sjahrir, Rudolf Mrazek, Sjahrir melatih anak-anak angkatnya untuk hidup sederhana. Sjahrir juga mengajari mereka agar mandiri, termasuk membekali dengan keterampilan seperti mengetik untuk dapat melamar pekerjaan.
“Oom Sjahrir tidak memiliki penghasilan, karena, entah mengapa, dia selalu berkeliling daerah, jauh dari rumah. Kemudian kami tahu bahwa kepergian ini terkait dengan gerakan bawah tanah,” kata Lily dikutip Mrazek dalam Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia.
Chairil Anwar yang lebih dulu punya akal untuk mencari cuan lewat jual beli barang bekas. Dia punya ide membeli sepeda, radio, kulkas, peralatan makan hingga barang pecah belah dari keluarga Belanda, lalu menjualnya kepada orang-orang Indonesia.
Saat itu, banyak warga Belanda dan Indo-Belanda yang terimpit ekonomi akibat tekanan pendudukan Jepang. Untuk itu, Chairil minta pinjaman uang kepada Sjahrir. Sjahrir bersedia memodali asalkan Des Alwi dilibatkan karena sama-sama menganggur.
“Dengan lima puluh gulden, Chairil dan saya pergi dari rumah ke rumah di antara keluarga-keluarga Belanda dan Eurasia yang kehilangan suami dan ayah, yang semua prianya berada di penjara. Kami membeli sepeda seharga tiga puluh lima gulden dari seorang wanita Belanda yang suaminya ditahan di kamp penjara Jepang,” terang Des Alwi.
“Dua hari kemudian kami menjualnya seharga tiga puluh tujuh gulden kepada Amir Hamzah Siregar, seorang pengacara muda teman Paman Rir. Chairil membeli buku-buku seri Multatuli, dan saya mengambil untung dari lampu dan dinamo yang telah kami lepas dari sepeda.”
Jual-beli barang bekas itu perlahan menjadi usaha nirlaba semata-mata untuk membantu Sjahrir mendapatkan barang-barang yang dibutuhkannya. Mulai dari tabung radio dan suku cadang yang tidak terdaftar, dinamo listrik kecil, pistol, buku, mesin tik, pita, alat tulis, dan kabel.
Alat-alat itu berguna bagi Sjahrir untuk menyokong perjuangannya di bawah tanah. Salah satunya adalah radio yang digunakan Sjahrir untuk memantau kabar kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.
Des Alwi menuturkan, dirinya dan Chairil membeli radio Philips dari wanita Indo seharga 125 gulden. Sjahrir membayarnya dan memeriksa radio tersebut. Saat itu, mendengarkan siaran radio dari negara-negara Sekutu secara sembunyi-sembunyi bisa dipenjara bahkan dipancung oleh dinas polisi rahasia Jepang, Kempeitai.
“Ia menemukan bahwa radio tersebut, meskipun terdaftar dan disegel oleh Jepang, dapat diubah ke gelombang pendek tanpa merusak segel dengan menekan kenop dengan hati-hati,” kenang Des Alwi.
Sjahrir memereteli radio tersebut agar bisa mengudara tanpa melepas segelnya. Pengeras suaranya dilepas, dibungkus dengan kain batik, lalu disembunyikan di balik pakaian di dalam lemari.
Dalam biografi Chairil yang ditulis Hasan Aspahani, kata “batik” menjadi kode Sjahrir kepada Des Alwi dan Chairil agar segera menyiapkan radio perangkat rahasia tersebut, jika ingin mendengarkan siaran, dengan sebuah headphone.
Bahkan, Des Alwi pernah memberanikan diri membawa radio yang selalu dibungkus kain batik itu melewati pos serdadu Jepang di ujung jalan. Supaya tidak mencurigakan, dia membawanya naik delman di siang bolong.
Ini adalah radio bersejarah dan mestinya tersimpan di museum perjuangan. “Karena radio itu dibeli Sjahrir untuk memantau perkembangan situasi dunia,” tandas Hasan. “Sadar atau tidak, peran kecil yang dilakukan Chairil [dan Des Alwi] itu, amat besar artinya bagi pergerakan kemerdekaan.”*


















Komentar