- Martin Sitompul
- 25 menit yang lalu
- 3 menit membaca
SUTAN Sjahrir tak banyak meninggalkan warisan. Sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan yang pernah menjabat perdana menteri pertama Indonesia, Sjahrir hanya meninggalkan sedikit harta bagi keluarganya. Partai yang dibentuknya, Partai Sosialis Indonesia (PSI), dibubarkan oleh rezim Sukarno. PSI pun hanya menyisakan segelintir kader intelektual.
“Partainya kecil banget tuh PSI. Tapi, dia (Sjahrir) sebut ini partai kader. Jadi tidak perlu besar. Dia fokus pada kaderisasi. Itu PSI zaman dulu,” kata intelektual publik Rocky Gerung dalam diskusi Sutan Sjahrir “Perjuangan Kita” di Perpustakaan Nasdem, Jakarta Pusat, 30 Januari 2026.
Semasa mudanya, Rocky teridentifikasi sebagai “Orkit” alias “Orang Kita”, sebutan untuk jaringan kelompok intelektual yang berafiliasi dengan PSI. Selain berorientasi pada pedagogi, menurut Rocky, salah satu ciri intelektual Sjahrir ialah pemikirannya tentang antifasisme. Sjahrir menerangkannya dengan gamblang dalam pamflet perjuangan berjudul Perjuangan Kita yang terbit pada 1945, sebelum PSI terbentuk.
Sjahrir menulis Perjuangan Kita dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, sekitar Oktober 1945. Risalah ini diterbitkan sebulan kemudian pada 10 November 1945. Dan pada 14 November 1945, Sjahrir dilantik sebagai perdana menteri pertama Indonesia.
Sebagai negara Republik yang baru terbentuk, keadaan Indonesia saat itu masih cukup rapuh. Aksi-aksi sepihak sebagai dampak euforia kemerdekaan kemudian melahirkan revolusi sosial di beberapa daerah. Terdorong oleh situasi genting itu, Sjahrir menuliskan manifesto perjuangan Perjuangan Kita. Dalam pengantarnya, Sjahrir menggambarkan suasana revolusi yang mencekam dua bulan pasca proklamasi kemerdekaan.
“Rakyat jelata turut tergolak ke dalam gerakan kemerdekaan, didorong oleh kegelisahannya yang disebabkan oleh suasana masyarakatnya [...] Ucapan-ucapan kegelisahan rakyat yang kerap kali merupakan perbuatan-perbuatan yang kejam serta pelanggaran hak milik dengan kekerasan, dapat dimengerti, jika dicari sebab-sebabnya yang lebih dalam,” tulis Sjahrir dalam Perjuangan Kita.
Menurut Sjahrir, Perjuangan Kita merupakan suatu program berkelanjutan untuk menjelaskan posisi Indonesia sehubungan dengan apa yang telah dicapai dan langkah perjuangan selanjutnya. Lebih jauh lagi, pamflet politik ini mempunyai tiga tujuan. Pertama, menjelaskan kepada rakyat Indonesia agar aktif mencegah Republik yang baru lahir jatuh ke tangan musuh-musuh radikal. Kedua, membersihkan rakyat dari elemen-elemen fasis, sebab tiga tahun pendudukan Jepang berhasil menanamkan pikiran fasis ke segala lapisan. Ketiga, untuk memperoleh kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia.
“Jepang datang dengan menghunus bayonet, memotong kepala orang. Itu periode 3,5 tahun. Jadi mental yang ditinggalkan oleh fasistis itu melekat sebagai fondasi untuk menghasilkan Indonesia merdeka. Nah, Sutan Sjahrir membayangkan itu, bayangkan misalnya Indonesia merdeka dengan mental yang fasis. Itu saya kira pendalaman filosofisnya,” terang Rocky.
Kendati terbit dalam bentuk pamflet, Perjuangan Kita terbilang sebagai sebuah karya monumental. Sejarawan Bennedict Anderson dalam Java in a Time of Revolution (Revoloesi Pemoeda) menyebutnya sebagai satu-satunya manifesto pada masa revolusi untuk menganalisis secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang mempengaruhi Indonesia. Perjuangan Kita juga memberikan perspektif yang masuk akal bagi arah kemerdekaan di masa depan.
“Lingkungan Sjahrir adalah lingkungan intelektual. Yang berupaya untuk menertibkan cara berpikir. Dengan reasoning yang bagus dan dengan retorik yang teratur,” ujar Rocky Gerung.
Sjahrir Antifeodalisme
Selain antifasis, menurut Ahmad Taufan Damanik, Sjahrir dalam Perjuangan Kita juga memperlihatkan corak pemikiran antifeodalisme. Padahal, Sjahrir merupakan anak bangsawan. Ayahnya Mohammad Rasad bergelar Maharadja Sutan adalah seorang jaksa sekaligus tokoh terkemuka di Koto Gadang, Sumatra Barat.
“Tapi, [Sjahrir] menarik juga. Dia tidak pernah mengedepankan status kebangsawanannya. Dalam sejarah yang saya baca dari bukunya [Rudolf] Mrazek [Sutan Sjahrir: Politik and Exile in Indonesia], Sjahrir ini kawan dengan semua orang, dengan segala macam suku, dan segala macam ras,” kata Taufan, mantan ketua Komnas HAM periode 2017-2022. Seperti Rocky, Taufan juga masuk jaringan kelompok Orkit.
Menurut Taufan, dalam pandangan Sjahrir, struktur kekuasaan lama yang berisi nilai-nilai fasisme dan feodalisme harus dirombak terlebih dahulu untuk membangun Indonesia yang baru merdeka. Sebab, fasisme dan feodalisme juga sebetulnya bagian dari jaringan kapitalisme-imperialisme. Di samping kaum buruh dan tani, Sjahrir menyinggung peran pemuda sebagai ujung tombak mencapai revolusi kerakyatan dalam Perjuangan Kita. Pada saat itu tidak banyak tokoh politik yang menempatkan pemuda sebagai harapan.
Namun, pemuda yang dimaksud Sjahrir bukan mereka yang berasal dari sisa-sisa rekrutan milisi Jepang. Dalam Perjuangan Kita, Sjahrir menyebutnya pemuda yang hanya tahu baris-berbaris, menyerang, menyerbu, dan berjibaku. Mereka tidak pernah diajarkan untuk memimpin.
“Generasi muda pasca kemerdekaan itu sebagian adalah produk-produk fasisme Jepang. Mereka ini dulu ikut PETA (Pembela Tanah Air), sekaligus dia juga menyinggung Sukarno dan Hatta yang menjadi kolaborator Jepang. Sjahrir bilang harus lahir pemuda-pemuda yang kritis,” terang Taufan.
Hadirnya Sjahrir sebagai perdana menteri berikut gagasannya dalam Perjuangan Kita mengikis stigma fasis warisan Jepang. Ia sekaligus menyelamatkan wajah Indonesia di panggung internasional sebagai bekal untuk memperoleh pengakuan kedaulatan dari negara lain. Perjuangan Kita yang ditulis Sjahrir diakui sebagai salah pemikiran terbesar pendiri bangsa. Majalah Tempo memasukkan Perjuangan Kita ke dalam 100 catatan yang membentuk Indonesia.*









