- 2 Feb
- 3 menit membaca
Diperbarui: 14 Mei
MESKIPUN sudah memeluk Islam, Raja Gowa Sultan Alauddin menjaga hubungan baiknya dengan bangsa-bangsa lain, termasuk yang non-Islam, tetap terpelihara. Maka dirinya membiarkan orang-orang Eropa datang bersama agamanya. Termasuk orang Portugis yang bersekutu dengannya, bahkan Belanda yang ketika itu masih pendatang baru di Nusantara.
Pelabuhan Gowa yang ramai terus dijaganya menjadi pelabuhan perdagangan rempah-rempah, komoditas yang amat dicari orang-orang Eropa untuk diperdagangkan. Tingginya nilai ekonomis rempah itu membuat Belanda tak ingin tertinggal menikmati “manisnya” laba jualan rempah. Maskapai dagang Hindia Timur Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pun mengirim kapal-kapalnya ke sana.
“Pada waktu kapal De Eendrach sandar di Bandar niaga Somba Opu, juru mudi bersama 15 awaknya setelah turun dari tangga kapal memperlihatkan kecongkakannya, seakan-akan tidak menghargai petugas pelabuhan. Atas tindakan itu Sultan marah, ke-15 awak itu diserang dan semuanya terbunuh. Atas tindakan itu, Belanda marah. Sultan yang sudah lama siap mengantisipasi serangan balik itu menyebar pasukannya di lautan maupun di darat,” catat Hannabi Rizal dkk. dalam Profil Raja & Pejuang Sulawesi Selatan 1.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















