top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda

Dengan membuat kerajaannya terbuka sehingga kuat, Sultan Alauddin sulit ditaklukkan Belanda.

2 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Sultan Alauddin. (Wikimedia Commons).

MESKIPUN sudah memeluk Islam, Raja Gowa Sultan Alauddin menjaga hubungan baiknya dengan bangsa-bangsa lain, termasuk yang non-Islam, tetap terpelihara. Maka dirinya membiarkan orang-orang Eropa datang bersama agamanya. Termasuk orang Portugis yang bersekutu dengannya, bahkan Belanda yang ketika itu masih pendatang baru di Nusantara.

 

Pelabuhan Gowa yang ramai terus dijaganya menjadi pelabuhan perdagangan rempah-rempah, komoditas yang amat dicari orang-orang Eropa untuk diperdagangkan. Tingginya nilai ekonomis rempah itu membuat Belanda tak ingin tertinggal menikmati “manisnya” laba jualan rempah. Maskapai dagang Hindia Timur Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pun mengirim kapal-kapalnya ke sana.

 

“Pada waktu kapal De Eendrach sandar di Bandar niaga Somba Opu, juru mudi bersama 15 awaknya setelah turun dari tangga kapal memperlihatkan kecongkakannya, seakan-akan tidak menghargai petugas pelabuhan. Atas tindakan itu Sultan marah, ke-15 awak itu diserang dan semuanya terbunuh. Atas tindakan itu, Belanda marah. Sultan yang sudah lama siap mengantisipasi serangan balik itu menyebar pasukannya di lautan maupun di darat,” catat Hannabi Rizal dkk. dalam Profil Raja & Pejuang Sulawesi Selatan 1.

Akibat kejadian yang berlangsung pada akhir 1616 itu, Belanda masuk sebagai daftar hitam Kerajaan Gowa. Oleh karenanya, berbagai cara diupayakan Belanda untuk menaklukkan Gowa.

 

Meski begitu, Gowa bukanlah kerajaan yang mudah diatasi oleh orang-orang Belanda. Ketika itu, orang-orang Gowa-Tallo sudah kenal teknologi senjata api dan bumi Nusantara punya bahan baku untuk dijadikan bubuk mesiu. Banyak orang membuat bedil sendiri.

 

Kondisi Gowa yang sulit ditaklukkan itu membuat Belanda mencoba peruntungannya dengan bergeser ke Maluku. Namun di sana pun sama, Belanda kesulitan untuk menganggu Kesultanan Ternate. Seperti Gowa, Ternate juga sahabat Portugis.

 

Maka ketika kabar Gowa dan Ternate mulai diganggu, Portugis yang berpusat di Malaka –dan juga sudah mulai diganggu oleh Belanda– tak tinggal diam. Portugis, yang sudah sejak 1511 berkuasa atas pelabuhan internasional Malaka, rela berbagi dengan sekutu-sekutu lokalnya demi keamanan.

 

“Salah satu bantuan yang paling penting, di samping kerjasama, bantuan senjata dan amunisi, adalah pembenahan armada laut Kerajaan dengan memberikan instruktur dalam membangun kapal perang tipe gallei,” catat Mukhlis Paeni dkk. Sejarah Kebudayaan Sulawesi.

Bentuk gallei atau galeon itu mirip dengan dengan model kapal Portugis Flor de la Mar yang karam –setelah merampas banyak emas dari Malaka– di perairan Aceh pada 1511. Gallei yang diperkenalkan Portugis kepada Gowa itu pun menjadi kapal andalan Kerajaan Gowa. Teknologi kapal di Sulawesi Selatan, yang sudah eksis jauh sebelum itu, jadi berkembang karenanya.

 

“Gowa menyusun satu armada perang yang kuat. Kapal- kapal perang Gowa berbentuk jung yang panjangnya sampai 27 meter dan lebar perutnya 5 meter. Kapal-kapal kenaikan raja dan laksamana pada umumnya berbentuk galle (galei),” tulis Ahmad Massiara Daeng Rapi dalam Menyingkap Tabir Sejarah Budaya di Sulawesi Selatan.

Di zaman Sultan Alaudin, tepatnya 1620-an, banyak kapal berbentuk gallei dibuat untuk Gowa. Kapal-kapal itu membuat Gowa bisa terlibat dalam pertempuran laut melawan armada laut Belanda. Gowa, disebut Nasaruddin Koro dalam Ayam Jantan Tanah Daeng, adalah penghalang besar bagi VOC dalam hal perdagangan antar-pulau. Terutama di wilayah yang  kini jadi Indonesia Timur.

 

Kuatnya armada laut Gowa membuat Sultan Alaudin tak semata menggunakannya untuk mengamankan wilayah kerajaannya saja, tapi juga memberi bantuan pada sekutu-sekutunya yang membutuhkan. Pada 1631-1634, bentrokan antara armada Ternate dengan armada VOC terjadi Kepulauan Maluku. Sebagai sahabat sejak zaman Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo berkuasa, Sultan Alauddin pun mengirimkan 100 kapal untuk membantu Ternate melawan armada VOC dalam perang yang disebut Perang Hongi itu. Ketika itu Belanda berusaha memonopoli cengkeh dengan menghancurkan cengkeh-cengkeh milik pesaingnya.

 

Sepeninggal Sultan Alauddin, kekuatan militer kerajaannya tetap terjaga. Penerus-peneursnya, yakni Sultan Malikussaid I dan Sultan Hasanuddin –cucu Alauddin, terus menjaga warisan Sultan Alauddin itu. Alhasil, VOC masih tetap kesulitan untuk mengalahkan Gowa. Untuk menghormati jasa-jasa Sultan Alauddin, namanya pun diabadikan menjadi nama Universitas Islam Negeri (UIN) di Makassar.*


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda

Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda

Dengan membuat kerajaannya terbuka sehingga kuat, Sultan Alauddin sulit ditaklukkan Belanda.
Senandung Nada di Lokananta

Senandung Nada di Lokananta

Studio musik pertama dan terbesar di Indonesia yang merekam suara-suara bernilai baik dari segi artistik. Lokananta tetap eksis sebagai saksi perkembangan musik Indonesia.
Demam Telenovela di Indonesia

Demam Telenovela di Indonesia

Bermula dari sandiwara radio di Kuba, revolusi membuka jalan alih wahana radionovela menjadi telenovela. Sinema Amerika Latin ini menyebar ke berbagai negara termasuk membanjiri layar kaca Indonesia.
Kisah Wanita Paling Mematikan di Italia

Kisah Wanita Paling Mematikan di Italia

Produk kecantikan yang digandrungi perempuan Italia ini ternyata racun yang diramu oleh perempuan paling mematikan.
Virus Nipah yang Bikin Resah

Virus Nipah yang Bikin Resah

Kasusnya pertamakali muncul di peternakan-peternakan babi di Malaysia tiga dekade silam. Lebih dari satu juta babi sampai dimusnahkan untuk menyetop penyebarannya.
bottom of page