- Randy Wirayudha

- 4 jam yang lalu
- 4 menit membaca
SEJUMLAH bandara internasional di Asia tengah siaga, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Para penumpang yang berasal dari mancanegara diwajibkan mengikuti protokol kesehatan, termasuk screening atau pemeriksaan kesehatan ketat sebagai langkah antisipasi masuknya virus Nipah (Henipavirus nipahense/NiV).
Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI, Kamis (29/1/2026), virus Nipah kembali terdeteksi dan kian meresahkan setelah laporan dua kasus di India pada 12 Januari 2026 lalu. Tiga suspek lain terdeteksi di West Bengal, di mana salah satunya punya riwayat merawat kasus pertama yang masih kritis. Meski hingga kini belum terdapat satu kasus pun di Indonesia, kita tetap mesti waspada.
Virus Nipah sendiri adalah semacam virus zoonosis yang terbawa hewan, seperti babi (Sus domesticus) dan kelelawar buah (Pteropus), yang bisa menular ke manusia. Penularannya bisa secara kontak langsung atau melalui sekresi hewan yang terinfeksi.
Menurut The Guardian, Rabu (28/1.2026), fatality rate-nya cukup tinggi karena virus Nipah bukan kali ini saja terdeteksi. Jika menginfeksi manusia, maka akan lebih dulu berinkubasi selama 14 hari. Gejala-gejala awal yang muncul meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, gangguan pernafasan, dan sakit tenggorokan.
Jika tidak segera ditangani, virus Nipah akan menyebabkan pneumonia, pembengkakan otak, hingga gangguan-gangguan syaraf seperti kejang-kejang. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, virus ini termasuk sangat menular dan punya fatality rate yang lebih mematikan ketimbang Virus Covid-19, yakni mencapai 40-70 persen.
Namun, hingga sekarang belum ada vaksin untuk melawan virus Nipah. Pun dengan pengobatan spesifik. Perawatan yang diberikan baru sekadar perawatan yang bersifat suportif terhadap gejala-gejala yang timbul.
Maka Kemkes dalam lamannya tadi juga merilis 10 imbauan. Di antaranya menghindari kontak dengan hewan kelelawar, babi, kuda. Tidak mengonsumsi nira/aren secara langsung dari pohonnya karena potensi kelelawar dapat mengontaminasi sadapan aren/nira.
“Konsumsi daging ternak secara matang, menerapkan protokol kesehatan, menerapkan pencegahan dan pengedalian infeksi (PPI) dengan benar, dan segera periksa ke fasilitas kesehatan jika merasa mengalami gejala-gejala di atas,” tulis Kemkes dalam imbauan-imbauannya.
Dari Peternakan Babi di Negeri Jiran
Pertamakali virus ini terdeteksi dan merebak terjadi pada akhir 1998 hingga 1999, tak lama setelah krisis moneter mengguncang Asia dan Asia Tenggara. Malaysia dan Singapura jadi negara yang paling terdampak. Total ada 265 kasus dengan kematian 105 jiwa. Industri peternakan babi di Malaysia pun nyaris kolaps setelah lebih dari sejuta ekor babi mesti dimusnahkan.
Pakar patologi Dr. Looi Lai-Meng dan Dr. Chua Kaw-Bing dalam artikel “Lessons from the Nipah virus outbreak in Malaysia” di The Malaysian Journal of Pathology, 29 (2), 2007 mengungkapkan, virusnya pertamakali muncul di peternakan-peternakan babi di Ipoh, Perak, medio September 1998. Diawali dengan munculnya gejala berupa gangguan pernafasan dan radang jaringan otak (ensefalitis) pada ternak-ternak babi yang lantas menginfeksi 28 pekerja peternakannya. Hampir semuapunya gejala kehilangan kesadaran dan hampir setengahnya mengalami kejang-kejang pula.
Para peternak babi pun resah setelah Ipoh jadi epicenter merebaknya virus itu. Sialnya, pemerintah Malaysia mulanya keliru mengidentifikasinya. Mereka mengira yang menginfeksi babi-babi itu dan lantas menularkannya kepada manusia adalah virus Japanese Encephalitis (JE) karea gigitan nyamuk.
Hal itu terjadi karena setelah mengambil empat serum sampel terhadap 28 kasus infeksi pertama pada pasien, ternyata positif Immunoglobin M (IgM). Ia semacam antibodi JE yang muncul di awal terjadinya infeksi.
“Konsekuensinya, upaya pengendalian awalnya adalah fogging dan vaksinasi terhadap ternak babi yang sayangnya tidak efektif. Ipoh yang menjadi epicenter, mencatatkan 15 kematian, 9 di antaranya kemudian baru terkonfirmasi bahwa mereka terinfeksi Virus Nipah saat diotopsi,” tulis Looi dan Chua.
Pemerintah Malaysia saat itu belum mau panik. Padahal hingga Februari 1999, virus itu sudah menyebar sampai ke Sikimat dan Bukit Pelandok di tepi Sungai Nipah, Distrik Port Dickson yang juga dua kawasan industri peternakan babi terbesar di Negeri Sembilan atau sekitar 300 kilometer sebelah selatan Ipoh.
Maka Negeri Sembilan jadi epicenter kedua yang lebih besar lagi korbannya. Menurut Looi dan Chua, tercatat ada 180 pasien dengan 89 jiwa kematian.
“Rasanya sudah seperti mimpi buruk. Setiap hari kami melihat suratkabar bahwa banyak yang meninggal. Saya sendiri kehilangan banyak teman. Banyak sekali,” kenang Thomas Wong, salah satu peternak babi di tepi Sungai Nipah, dilansir NPR, 25 Februari 2017.
Lantas menyebar lagi ke Sepang dan Sungai Buloh di Selangor. Pada Maret 1999 sudah mencapai Singapura dengan 11 kasus dan 1 kematian.
Ketika itu, hanya Chua yang menyadari bahwa virus itu bukanlah JE yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, melainkan jenis virus lain yang ditularkan melalui kontak langsung maupun via sekresi babi. Saat itu, Chua masih jadi periset muda virologi di University of Malaya.
“Saya mengontak kepala departemen (patologi). Saya bilang, ‘Prof, saya ingin menunjukkan sesuatu,” kata Chua.
Akan tetapi guru besarnya tak percaya pada sebuah eksperimen dari satu sampel virusnya yang dilakukan Chua ketika itu. Ia tak menyerah. Chua membawanya ke koleganya di Amerika Serikat, di Laboratorium Centers for Disease Control for Prevention, Fort Collins, Colorado. Nama “Virus Nipah” itu pun didapat dari sampel yang terisolasi yang diperoleh dari penelitiannya di Kampung Sungai Nipah itu.
Dari penelitiannya, didapati virusnya semacam Henipavirus (HeV) yang berarti ditularkan dari mamalia kecil dan itu berarti bukan nyamuk. Melainkan babi atau sejenis kelelawar buah. Tak ayal dari ratusan pasiennya yang terinfeksi adalah para pasien yang terbiasa berkontak langsung dengan ternak babi dan mengonsumsi daging babi.
“Faktanya memang tidak ada pasien muslim yang sakit. Jika penyakitnya datang dari nyamuk, akan ada (pasien) muslim, Hindu, dan Kristen. Dan seperti yang Anda tahu, orang-orang muslim tidak berurusan dengan babi,” timpal rekan Chua yang juga pakar virus, Dr. Tan Cheng Siang.
Setelah dari Amerika, Chua pun kembali ke Malaysia dan memperingatkan bahwa fogging sia-sia karena ia bawa bukti bahwa virusnya dari babi, bukan dari nyamuk. Yang terjadi adalah perubahan langkah antisipasi yang radikal: pemerintah menggerakkan Angkatan Darat (AD) Malaysia untuk memusnahkan sekitar 1,1 juta ekor babi.
Uniknya penyebaran virusnya kemudian terhenti dan kasus kematian terakhir terjadi pada 27 Mei 1999, meski tidak hilang sama sekali. Sampai kini pun masih jadi misteri, dari mana babi-babi itu bisa terpapar virusnya.*













Komentar