- 2 jam yang lalu
- 7 menit membaca
SESOSOK patung berbahan perunggu berdiri gagah di pelataran Museum PETA, Bogor. Berwujud seorang serdadu yang mengepalkan tangan kanannya ke atas. Pada tangan kirinya memegang katana sementara kepalanya mengenakan topi ryakubo khas serdadu Jepang. Beranjak ke bagian tugu penyangga tertulis keterangan: “Shodanco Supriyadi. Panglima TKR”.
“Supriyadi melihat bangsa Indonesia dijadikan romusa (tenaga kerja paksa). Oleh karenanya, Supriyadi memberontak terhadap Jepang,” tutur Yulis Fatimah, pemandu Museum PETA kepada Historia.ID.
Supriyadi diangkat menjadi menteri pertahanan pertama, tetapi tak pernah muncul di hari pelantikannya pada September 1945. Tujuh bulan sebelumnya, tepatnya 14 Februari 1945, Supriyadi memimpin perlawanan terhadap militer Jepang di Blitar, Jawa Timur. Aksi Supriyadi ini tercatat dalam sejarah sebagai Peristiwa Pemberontakan Tentara PETA di Blitar.
“Pemberontakan ini sangat fenomenal, sangat besar sekali dampaknya bagi tentara PETA yang berani melawan musuhnya, yaitu tentara Jepang,” kata Yulis.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












