- 1 Agu 2023
- 7 menit membaca
Diperbarui: 7 Mar
DARI kejahuan, bangunan cokelat muda itu sekilas mirip stasiun kereta. Tembok tinggi memagari hampir semua sisi bangunan. Pintu masuknya, berukuran besar dan membentuk lorong sepanjang sekira 10 meter, seperti tempat tunggu penumpang kereta.
Siang itu, di halamannya, tiga pekerja sibuk di halaman. Ada yang mengecat dinding, merapikan rumput halaman, ada pula yang membersihkan selokan. Mereka seolah berkejaran dengan waktu. Rencananya, pada 14 Februari tahun ini, akan ada acara untuk mengenang pemberontakan Peta (Pembela Tanah Air) di Blitar 68 tahun silam.
“Makanya kita di sini korve (kerja bakti) terus,” ujar Lettu Caj Soeroso, perwira seksi Museum Peta, yang mengawasi pembenahan itu dan sesekali ikut membantu.
Di dalam museum, puluhan pelajar SMU Kesatuan Bogor serius mengamati satu per satu koleksi, termasuk senjata-senjata era Perang Dunia II. “Ngeri juga ngelihatnya, habis senjata. Sekarang mah udah nggak biasa kali ya,” ujar Dmitri, salah seorang pelajar, kepada Historia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















