top of page

Cerita dari Museum Peta

Berawal dari tempat tinggal para pengawal gubernur jenderal, bangunan ini lalu dijadikan tempat latihan perwira Peta pada masa pendudukan Jepang, dan berakhir sebagai museum.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang pernah menjadi Daidancho Peta, di Museum Peta di Bogor, Jawa Barat. (Rully Kustiwa/Historia.ID).

1 Agu 2023
7 menit membaca

Diperbarui: 7 Mar

DARI kejahuan, bangunan cokelat muda itu sekilas mirip stasiun kereta. Tembok tinggi memagari hampir semua sisi bangunan. Pintu masuknya, berukuran besar dan membentuk lorong sepanjang sekira 10 meter, seperti tempat tunggu penumpang kereta.


Siang itu, di halamannya, tiga pekerja sibuk di halaman. Ada yang mengecat dinding, merapikan rumput halaman, ada pula yang membersihkan selokan. Mereka seolah berkejaran dengan waktu. Rencananya, pada 14 Februari tahun ini, akan ada acara untuk mengenang pemberontakan Peta (Pembela Tanah Air) di Blitar 68 tahun silam.


“Makanya kita di sini korve (kerja bakti) terus,” ujar Lettu Caj Soeroso, perwira seksi Museum Peta, yang mengawasi pembenahan itu dan sesekali ikut membantu.


Di dalam museum, puluhan pelajar SMU Kesatuan Bogor serius mengamati satu per satu koleksi, termasuk senjata-senjata era Perang Dunia II. “Ngeri juga ngelihatnya, habis senjata. Sekarang mah udah nggak biasa kali ya,” ujar Dmitri, salah seorang pelajar, kepada Historia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page