- 10 Jun
- 6 menit membaca
Diperbarui: 12 Jun
AKHIR 1939, datanglah ke Kota Magelang seorang juara dunia catur dari Belanda bernama Max Euwe. Di sana dia bertanding catur melawan 41 orang. Koran De Locomotief, 23 September 1930, memberitakan, dari 41 pertandingan yang dimainkan Max, 36 laga dimenangkannya, dua seri (melawan Soejono dan Ratib, pelajar Hogare Kweekschool, HKS), dan tiga kalah. Kekalahannya terjadi saat melawan Residen Van Pelt, Liem Tjay An, dan Sudiro seorang pelajar HKS.
Sudiro adalah siswa tahun terakhir di HKS Magelang. Putra kepala laboran (pengelola laboratorium) pabrik gula di Klaten itu lulus dari sekolah tersebut pada 1931. Dari Magelang, Sudiro kemudian pindah ke Madiun. Memulai kariernya sebagai guru.
Guru Rival Aparat Kolonial
Di Madiun, Sudiro ditampung di sekolah-sekolah milik Boedi Oetomo, yang sudah memiliki sekolah menengah MULO (Meer Uitgebrid Lager Onderwijz) dan sekolah guru Kweekschool. Sudiro dipercaya menjadi direktur MULO-Kweekschool Boedi Oetomo.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















