- 2 jam yang lalu
- 6 menit membaca
AKHIR 1939, datanglah ke Kota Magelang seorang juara dunia catur bernama Max Euwe. Di sana dia bertanding catur melawan 41 orang. Koran De Locomotief tanggal 23 September 1930 memberitakan, dari 41 pertandingan yang dimainkan Max, 36 laga dimenangkannya, dua seri (melawan Soejono dan Ratib, keduanya pelajar Hogare Kweekschool (HKS), dan tiga kalah. Kekalahannya terjadi saat melawan Resident Van Pelt, Liem Tjay An, dan Soediro yang merupakan seorang pelajar HKS.
Sudiro adalah siswa tahun terakhir di HKS Magelang. Putra laboran –pengelola laboratorium– kepala di sebuah pabrik gula Klaten itu lulus dari sekolah tersebut pada 1931. Dari Magelang, Sudiro kemudian pindah ke Madiun. Memulai kariernya sebagai guru.
Guru Rival Aparat Kolonial
Di Madiun, Sudiro ditampung di sekolah-sekolah milik Boedi Oetomo (BO), yang sudah memiliki sekolah menengah MULO Kweekschool, lalu Meer Uitgebrid Lager Onderwijz (MULO), dan juga sekolah guru yang disebut Kweekschool. Sudiro dipercaya menjadi direktur MULO-Kweekschool Boedi Oetomo.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















