- 3 jam yang lalu
- 8 menit membaca
SEKIRA sebulan setelah proklamator Mohammad Hatta pergi ke alam keabadian, pikiran R. Sudiro Hardjodisastro mengawang ke masa lalu tatkala diminta salah satu putri Bung Hatta, Meutia Farida Hatta, untuk turut menulis ingatannya tentang Bung Hatta buat sebuah buku kenang-kenangan. Pikirannya “mengembara” ke masa tatkala Sudiro sebagai pelajar pertamakali mendengar nama dan kiprah Bung Hatta.
Bukan semata lantaran Sudiro kenal lama dengan Bung Hatta. Permintaan juga datang dari fakta Sudiro merupakan bagian dari keluarga besar Bung Hatta berkat perkawinan Sri Edi Swasono dengan Meutia Hatta pada 1973. Sri Edi merupakan adik sepupu Sudiro, mengingat ayah Sri Edi, yakni Moenadji Soerohadikoesoemo, terhitung paman bagi Sudiro.
Ingatan Sudiro tentang Bung Hatta sendiri dikisahkannya dalam kumpulan karangannya yang dibukukan berjudul Pelangi Kehidupan. Nama Bung Hatta, kisahnya, pertama didengarnya tatkala Hatta dipenjara di Belanda. Ia mengetahuinya bukan hanya dari media massa namun juga dari kawan-kawannya sesama pelajar di sekolah menengah keguruan Hogere Kweekschool (HKS) dan organisasi Jong Java.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















