- 1 jam yang lalu
- 11 menit membaca
DALAM tradisi Melayu dan Minangkabau, silaturahim memiliki posisi penting. Ia adalah upaya mempererat persaudaraan dan kekeluargaan. Maka, silaturahim itulah yang diinginkan Shamsiah Fakeh pasca-diizinkan pulang ke negerinya, Malaysia.
Shamsiah lebih dari empat dekade jadi eksil dengan cap sebagai komunis. Kiprahnya dalam gerakan kemerdekaan mengusik kolonialis dan para pendukungnya. Ketika pemerintah Malaysia telah berbaik hati, Shamsiah dan suaminya dari pernikahan kelima, Ibrahim Mohamad, diperbolehkan pulang pada 22 Juli 1994.
Shamsiah mensyukuri izin itu dengan bersilaturahim ke dua tokoh yang rekannya semasa perjuangannya: Abdul Samad Idris dan Aishah Ghani. Samad merupakan tokoh United Malays National Organisation (UMNO), rival politik Partai Komunis Malaya (PKM) tempat Shamsiah dan Ibrahim jadi kadernya sejak perjuangan kemerdekaan Malaysia dari Inggris. Dalam memoarnya, Dari AWAS ke Rejimen Ke-10, Shamsiah berkisah ia dan suaminya bertamu ke kediaman Samad pada 31 Juli 1994.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















