top of page

Jalan Terjal Alhilaal

Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kesebelasan Alhilaal melakukan tur ke Batavia tahun 1930 atas undangan Bataviaasch Kantoor Voetbal Bond. (Bataviaasch Nieuwsblad, 7 April 1930).

29 Apr
19 menit membaca

MINGGU, 14 Oktober 1934. Para penonton memadati lapangan alun-alun Pekalongan, Jawa Tengah. Pertandingan ini selalu ditunggu-tunggu penikmat sepakbola. Mempertemukan Alhilaal, klub sepakbola Arab, dan Tsing Hua Hui (THH), klub sepakbola Tionghoa. Kendati satu kota, kedua kesebelasan punya sejarah rivalitas yang kuat. Mereka juga punya pendukung fanatik.


“Begitu populernya kedua kesebelasan itu sehingga saya masih hafal beberapa nama pemainnya. Dari kesebelasan Alhilaal antara lain Bachtir (kiper), Baldjoen, Soengkar dan Maliki (barisan penyerang), sedangkan pemain kesebelasan THH antara lain Yap Chau dan Oei Guat Hoen,” kenang Hoegeng Imam Santoso, yang kelak menjabat kepala Kepolisian RI dan dikenal sebagai “polisi bersih”, dalam otobiografinya.


Pertandingan ini merupakan program amal untuk mengumpulkan dana krisis (afdeelingscrisisfonds), termasuk menangani penggangguran. Panitia diketuai oleh pelaksana tugas walikota dan dibantu oleh beberapa ahli sepakbola Pekalongan. Program dilaksanakan setelah mendapat izin dari Voetbalbond Semarang en Omstreken (VSO), federasi sepakbola Semarang dan sekitarnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page