- 27 Apr
- 8 menit membaca
MENDARATLAH pesawat amfibi milik armada udara Inggris Royal Air Force (RAF) di Pontianak. Dari pesawat itu turun pula putra Sultan Pontianak, Letnan Kolonel Syarif Hamid Alkadrie (1913-1978). Ketika itu tentara Jepang belum begitu lama menyerah kepada tentara sekutu. Rasa kehilangan mendera Hamid.
“Ada dua belas raja yang berkuasa di Borneo Barat Belanda, yang semuanya dibunuh oleh Jepang,” kata Hamid di koran Trouw edisi 5 Februari 1946.
Jumlah itu belum termasuk ribuan orang Tionghoa dan bumiputra yang tinggal dan berasal dari Kalimantan Barat sendiri. Tak diketahui pasti berapa jumlah korbannya. Pembantaian oleh tentara Jepang itu dikenal sebagai Tragedi Mandor Berdarah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















