top of page

Sudiro Memimpin Daerah Berbahaya

Sejak awal menjadi pejabat, Sudiro ditempatkan di daerah konflik. Dimulai dari Surakarta, berakhir di Sulawesi yang penuh pergolakan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tanto Sudiro, anak Sudiro. (Bisri/Historia.ID).

17 Jun
8 menit membaca

USIANYA nyaris 80 tahun. Namun, pria berperawakan kurus itu masih sehat dan jauh dari kesan ringkih penampilannya. Yang tak kalah penting, ingatannya masih kuat dan bicaranya jelas dan lancar.

 

Gaya bicaranya ceplas-ceplos, cepat, dan ada akhiran kata khas yang kuat mengesankan logat Betawi ketimbang Jawa yang menjadi “darah dagingnya”. Ada juga sedikit logat Makassarnya.

 

“Waktu pulang ke sini, kakak-kakak saya logat Jawa, saya logat Makassar,” ujar Tanto Sudiro, pria tadi, kala ditemui Historia.ID di rumahnya di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan.

 

Makassar menjadi tempat kedua “bersosialisasi” baginya setelah Jawa. Ayah akrtis Tora Sudiro itu masih tiga tahun kala dibawa kedua orangtuanya ke Makassar pada 1951. Kala itu ayahnya, Raden Sudiro, ke Makassar karena ditetapkan pemerintah pusat untuk memimpin Sulawesi sebagai gubernur.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page