- 1 jam yang lalu
- 7 menit membaca
KETIKA Jepang datang, hidup Sudiro sebenarnya sudah enak dan tenang di Palembang. Dia menjabat direktur sekolah rakyat Kokumin Gakko di Plaju. Selain itu, dia juga mengajar bahasa Jepang untuk tenaga asing di perusahaan tambang minyak Plaju-Sungai Gerong, dengan perantara bahasa Belanda dan Inggris.
Sudiro digaji tiga rupiah per hari, lebih dari cukup untuk biaya hidup sekeluarga. Lagi pula, pejabat Jepang senang kepada Sudiro lantaran fasih berbahasa Jepang. Di samping gaji lumayan, dia juga mendapat rumah besar milik pegawai Belanda. Makan dan pakaian cukup. Bahkan, untuk membantu aktivitasnya, Sudiro diberi dua pembantu orang Sikh, Mager Singh dan Harnaam Singh. Dengan berbagai fasilitas itu, kesejahteraan dan kebutuhan finansialnya terjamin.
“Pada suatu hari saya menerima telegram dengan huruf Katakana. Ternyata dari ‘Jakaruta’. Bunyinya: ‘Sugu ni koi putera de hataraki shi’ (Lekas datang untuk bekerja pada Putera). Sebagai pengirim tertulis: Sukaruno,” kata Sudiro dalam Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.
















