top of page

Dari Kampung ke Kampung, “Tour of Duty” Westerling

Pasukan Westerling ini pernah bermarkas di Polonia dan Kalibata sebelum pindah ke Batujajar.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kapten Westerling di Batujajar, markas akhir pasukannya. (Nationaal Archief).

12 Feb
3 menit membaca

Diperbarui: 14 Mei

MEDAN adalah kota pertama yang dipijak Letnan Raymond Paul Piere Westerling (1919-1987) di bekas Hindia Belanda. Dengan terjun payung, dirinya mendarat di Bandar udara Polonia, Medan.

 

Dari markasnya di pusat kota, Westerling lalu berkeliling ke daerah-daerah sekitar di provinsi itu. Antara lain Berastagi, yang dikenangnya sebagai daerah yang indah.

 

Dari Medan, dirinya kemudian dipindahkan ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta pada 26 Juli 1946, Westerling ditugaskan untuk ikut membangun sebuah pasukan yang jumlah awalnya sekitar 100 orang dan dinamai Depot Special Troepen (DST). Pasukan itu ditempatkan di sebuah kamp yang namanya mirip dengan daerah tugas Westerling waktu di Medan: Polonia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page