- 12 Feb
- 3 menit membaca
MEDAN adalah kota pertama yang dipijak Letnan Raymond Paul Piere Westerling (1919-1987) di bekas Hindia Belanda. Dengan terjun payung, dirinya mendarat di Bandar udara Polonia, Medan.
Dari markasnya di pusat kota, Westerling lalu berkeliling ke daerah-daerah sekitar di provinsi itu. Antara lain Berastagi, yang dikenangnya sebagai daerah yang indah.
Dari Medan, dirinya kemudian dipindahkan ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta pada 26 Juli 1946, Westerling ditugaskan untuk ikut membangun sebuah pasukan yang jumlah awalnya sekitar 100 orang dan dinamai Depot Special Troepen (DST). Pasukan itu ditempatkan di sebuah kamp yang namanya mirip dengan daerah tugas Westerling waktu di Medan: Polonia.
Sejak 1930-an, daerah di Jakarta itu sudah bernama Polonia. Koran Het Nieuws van den dag voor Ned Indie tanggal 2 Desember 1935 memberitakan, sebuah kolam renang dan restoran telah dibuka dengan nama Polonia.
Sebelum Westerling datang, memang sudah ada jalan dan taman bernama Polonia di Bidaracina, Jakarta Timur. Daerah itu dulunya bagian dari kota Meester Cornelis dan kini menjadi bagian dari Jakarta Timur. Pusat dari Meester, yang punya pasar dan stasiun, itu belakangan dikenal sebagai Jatinegara.
“Saya naik becak untuk pergi ke Polonia, berhati-hati duduk menyamping, agar bisa mengawasi di pengayuh yang menggerakkan kendaraan kecil itu,” kenang Westerling, yang waspada karena lawan yang disebutnya teroris bisa menyamar sebagai apa saja, dalam memoarnya, Challange to Terror.
Sesampai di Kamp Polonia, Westerling menyaksikan kamp itu terdiri dari tiga atau empat bangunan yang menampung 50 orang. Di sana, dia juga bertemu kawannya sewaktu di Colombo yang kini memimpin pasukan komando itu, Kapten Willem Jan Scheepens (1907-1948). Tak lama setelah kedatangan Westerling, Scheepens terluka bersama beberapa anak buahnya dalam sebuah operasi. Westerling diperintahkan menggantikannya dalam memimpin pelatihan di sana.
Westerling melakukan cara berbeda dalam melatih pasukannya. Dia mulai dengan bicara apa yang dilakukannya dan mempersilahkan yang keberatan untuk pindah kesatuan. Dari 50 orang, hasilnya hanya 20 orang yang bertahan di Kamp Polonia. Westerling senang dengan hal ini. Meski begitu, beberapa minggu kemudian kamp itu ketambahan orang hingga jumlahnya mencapai 120 orang.
Pelatihan taktik komando yang diajarkan Westerling berdasarkan pelatihan yang didapatnya di Inggris dan pengalamannya di dalam Perang Eropa. Mulai dari pertempuran malam, menyeberangi rawa, memakai perahu karet, memakai senjata api dan tentu yang menjadi keahlian Westerling, membunuh tangan kosong atau dengan pisau. Pasukan itu memakai baret berwarna hijau dan dianggap sebagai pasukan komando.
Pelatihan berlangsung sejak Juli hingga November 1946. Pada awal Desember 1946, pasukan itu mendapat tugas penting ke Sulawesi Selatan dalam operasi militer yang disebut Kampanye Pasifikasi. Letnan Westerling dapat kenaikan pangkat menjadi kapten dalam operasi hingga akhir Februri 1947 itu.
Meski dianggap sukses oleh petinggi militer Belanda, dalam operasi itu pasukan DST bekerja dengan cara kejam. Bahkan apa yang mereka lakukan menuai protes dunia internasional.
Pasukan DST lalu ditarik kembali ke Jakarta. Mereka ditempatkan di tempat baru.
“Pada bulan Maret, Kalibata, Meester Cornelis, menjadi lokasi baru DST. Depot tersebut dengan cepat melakukan perubahan,” catat Jaap de Moor dalam Westerling's oorlog Indonesië 1945-1950.
Kalibata terkenal sejak lama, antara lain karena adanya pabrik sepatu Bata. Pada 1800-an, nama Kalibata sudah disebut dalam koran maupun lembaran negara kolonial.
Di mana persisnya kamp Westerling di Kalibata, agak sulit dilacak karena bangunan-bangunan baru terus bertumbuhan setelah Westerling angkat kaki dari sana. Namun di Polonia sekarang masih ada daerah bernama Perumahan Polonia Camp.
Waktu DST di Kalibata itu, Sersan Mayor Willem Uittenbogaard sedang mempersiapkan tunangannya. Het Dagblad tanggal 9 Oktober 1947 memberitakan, dia hendak bertunangan dengan Nona de Wit yang tinggal di Rivierlaan 18 (kini Jalan Cilosari). Sersan Mayor Willem adalah bawahan Westerling yang juga pelatih pasukan khusus.
Ketika DST makin membesar anggotanya, Kamp Kalibata tak mampu lagi menampung pasukannya. Maka pada tahun yang sama pasukan DST dipindah ke Batujajar, dekat Bandung. Seiring waktu, nama DST diganti menjadi Regiment Special Troepen (RST). Selain pasukan komando baret hijau, di dalamnya ada pula pasukan penerjun berbaret merah – belakangan menjadi Korps Special Troepen. Meski Westerling bukan lagi komandan pasukan itu setelah November 1948, Westerling sangat dihormati oleh pasukan baret itu.*













Komentar