- 18 Mei
- 5 menit membaca
“PAPUA, bukan tanah kosong!” ujar Franky Woro dan para warga suku Awyu lantang usai menancapkan sebuah salib merah dan palang adat di tanah adat mereka di Distrik Fofi, Boven Digoel, Papua Selatan. Seruan itu jadi inti soal isu yang diungkit film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita garapan duet sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale.
Dokumenter berdurasi sekitar 96 menit itu digarap selama tiga tahun di lima distrik di Provinsi Papua Selatan oleh Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Koperasi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Watchdoc, dan LBH Papua Merauke. Isu yang diangkat yakni problema-problema di balik Proyek Strategi Nasional (PSN) ketahanan pangan dan energi yang membuka 2,5 juta hektare hutan alam di Asmat, Mappi, Merauke, dan Boven Digoel. Ini jadi pembukaan hutan terbesar di dunia dengan pengerahan ekskavator terbanyak, sekitar 2.000 unit.
Franky Woro dari suku Awyu hanya satu dari 12 narasumber utama dalam Pesta Babi. Hutan dan tanah adatnya di Distrik Fofi terancam pembukaan lahan sawit secara kolosal untuk keperluan biodiesel. Maka, ia dan segenap masyarakat suku Awyu menancapkan sekitar 1.800 salib merah dan palang adat sebagai tanda perlawanan terlepas dari adanya intimidasi militer.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















