top of page

Soeharto Tidak Percaya Kahar Muzakkar

Pernah ada masalah dengan pejuang seberang, Soeharto lama tidak memberi tempat orang-orang Sulawesi dalam posisi kunci militer. Jenderal M. Jusuf pengecualiannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 2 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

DI MASA revolusi, siapapun tidak ada yang benar-benar aman. Bahkan, tentara sekalipun. Hal itulah yang dialami Mayor Soekardi. Suatu hari, kepala Bagian Keuangan di sebuah resimen tentara di Yogyakarta itu dirampok dan dibunuh.

  

Dari pemeriksaan kemudian diketahui, pelakunya adalah Sersan Mahmud dan teman-temannya dari Pasukan 1001 Brigade Seberang, yang pernah dipimpin Mayor Andi Mattalata. Brigade Seberang, yang berisi orang-orang Sulawesi Selatan atau Sulawesi Utara yang berjuang di ibukota Yogyakarta, dekat pula dengan Letnan Kolonel Kahar Muzakkar.  

 

Setelah ditangkap, para pelaku diperiksa oleh Kapten Frits Runtunuwu dan Kapten Felix Tuyuh sebagai komandan dan wakil komandan Sektor 1. Pelaku kemudian dipecat dan ditugaskan menyusup ke Kalimantan untuk membangun kekuatan RI di sana. Frits dan Felix juga kemudian ditugaskan ke Sulawesi membangun kekuatan RI.

  

“Saya putuskan untuk mengambil alih tanggungjawab masalah ini. Saya bersama Maulwi Saelan pergi mengurus penyelesaiannya dan menjelaskan semua duduk perkaranya. Waktu menghadap Letkol Soeharto, Letnan Wim Sigar saya ajak serta,” kisah Ventje Sumual dalam Ventje H.N. Sumual: Memoar.

 

Soeharto, yang merupakan komandan Resimen di Yogyakarta sekaligus ipar Mayor Soekardi, hanya diam setelah Ventje Sumual menjelaskan permasalahannya. Soeharto hanya mondar-mandir. Suasana agak tegang. Para perwira Sulawesi yang menghadap Soeharto juga diam membatu. Hanya Wim yang kemudian berbisik.

 

Bekeng mati jo. Soharto kita bereskan,” bisik Wim ke Sumual.

 

Mendapat saran “brengsek” untuk mematikan Soeharto, Sumual marah. Dia mempelototi Wim.

 

Soeharto pun akhirnya bersuara. “Ya sudah Je... selesai di sini saja ya,” kata Soeharto.

 

Jauh setelah kejadian tersebut, Soeharto ditugaskan di Makassar pada 1950-1951. Di sana, sedang ramai veteran-veteran pejuang yang ingin menjadi TNI namun tak semua bisa diterima. Beberapa komandan setempat bahkan berseberangan dengan pemerintah pusat terkait masalah bekas pejuang. Kahar Muzakkar kemudian dikirim ke Sulawesi Selatan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

 

“Kahar tidak pernah menepati janjinya. Dia akan banyak menimbulkan masalah di daerah

itu,” kata Soeahrto seperti dikutip O.G. Roeder dalam Anak Tani: Biografi Presiden Soeharto.

 

Soeharto tidak asal menebak. Track record Kahar menjadi bahan pertimbangannya. Terlebih ketika keduanya sama-sama berada di ibukota Yogyakarta saat Perang Kemerdekaan.

 

Suatu hari, saat kami sudah menjadi Brigade XVI, Kahar memimpin pasukan Resimen Hasanuddin yang telah dia hasut menduduki markas Brigade XVI di Saidan, Jogja. Semua staf dan pasukan yang ada di markas dilucuti dan senjata yang mereka ambil lalu dibawa ke Klaten, kota tempat Kahar bermarkas.

 

Saat pendudukan berlangsung, Kolonel Lembong sedang tidak di tempat. Hanya ada Letkol Joop F. Warouw sebagai pemegang komando, namun dia tidak bisa apa-apa kecuali hanya melaporkan ke Markas Besar Komando Djawa.

 

Mendapati Panglima MBKD Kolonel AH. Nasution bingung mesti bagaimana bertindak, Ventje akhirnya memberanikan diri meminta izin Warouw. “ Biar jo...kita urus!” kata Ventje kepada Warouw.

 

“Tanpa membuang waktu, saya langsung berangkat ke Klaten, Markas Pasukan Kahar. Turut serta bersama saya 2 Kompi dari Yon Palar. Satu dipimpin Gerard Lombogia, dan satunya oleh Lucas Palar sendiri. Arahan strategi baru saya infokan di perjalanan. Saya bilang, jangan harap untuk dapat berunding dengan Kahar. Saya teman lama dia, kenal sekali wataknya, keras seperti batu! Begitu sampai di markas Kahar di Klaten, posisi tempur langsung digelar. Resiman Hasanuddin dan 2 Kompi Yon Palar, 2 pasukan sepulau dan begitu akrabnya waktu di KRIS saling berhadap-hadapan,” terang Ventje.

 

Begitu ultimatum ke Kahar dikeluarkan Ventje, pertempuran sengit pecah di antara sesama saudara asal Sulawasi di siang bolong itu. Pasukan Kahar menyambut kami dengan tembakan gencar, mereka stelling di sektar markasnya. Sekira dua jam kedua belah pihak saling jual-beli tembakan hingga akhirnya teriakan permintaan cease fire datang dari markas Kahar. Sang pemimpin Resimen Hasanuddin itu akhirnya ditahan Dan CPM Mayor Soedirgo, meski kemudian dibebaskan oleh Letkol Warouw atas bermacam pertimbangan. 

 

Cela dalam sepak-terjang itu menjadi alasan Soeharto untuk menebak Kahar. Tebakan Soeharto tidak meleset. Belakangan, Kahar yang ditugaskan membereskan masalah di Sulawesi Selatan malah memimpin para veteran pejuang yang ingin bergabung dengan TNI bergerilya. Para veteran pejuang itu malah menjadi ujung tombak gerombolan pengganggu keamanan di sana. 

 

“Letkol Kahar Muzakkar kecewa ketika Resimen Hasanuddin, badan kelaskaran yang dibangunnya saat itu dilebur ke dalam KRU-X dan hanya menjadi 1 Batalyon. Dia mengingatkan pada kesepakatan awal berdirinya KRIS, bahwa kepemimpinan harus berasakan keseimbangan antara Sulawesi Utara dan Selatan. Kahar pura-pura tidak mau tahu bahwa kepemimpinan dalam Brigade diputuskan oleh pimpina di MBT dan Pemerintah. Kami dari pasukan hanya mengusulkan. Lagipula kami sebenarnya sudah menyiapkan draf pengusulan yang di dalamnya termasuk Letkol Kahar Muzakkar sebagai Wakil Komandan dan Mayor M. Saleh Lahade sebagai Kepala Staf. Begitulah, Kahar sudah terlanjur panas hati, dia juga sudah terlanjur memanas-manaskan sejumlah pimpinan pasukan Resimen Hasanuddin,” ujar Ventje.


Buntut dari ulah Kahar, Soeharto sewaktu menjadi presiden hampir tidak memberi tempat pada perwira asal Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Utara dalam ABRI. Hanya Jenderal M. Jusuf orang Sulawesi Selatan yang pertama dipercaya Soeharto menempati posisi terpenting di militer, yakni Menhankam/Pangab. Setelah itu, pada 1990-an, barulah Kolonel Sjafrie Sjamsoedin juga dipercaya menjadi ajudan Soeharto.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Maria Ullfah lahir dari keluarga menak terpandang. Memilih jalan perjuangan.
bg-gray.jpg
Pernah dicampakkan dan ditipu intel Jepang, Shamsiah Fakeh lantang menyuarakan emansipasi perempuan. Dituduh bunuh anak sendiri saat gerilya di hutan.
bg-gray.jpg
Jenderal sekaligus pahlawan Italia ini sedang menakhodai kapalnya ketika Perang Aceh meletus. Di perairan Aceh, dia kena kolera.
bg-gray.jpg
Setiati menggerakkan kaum perempuan untuk memperingati satu tahun kemerdekaan Indonesia di tempat pembacaan proklamasi. Mereka terus bergerak meski dihadang tentara Gurkha.
Pernah ada masalah dengan pejuang seberang, Soeharto lama tidak memberi tempat orang-orang Sulawesi dalam posisi kunci militer. Jenderal M. Jusuf pengecualiannya.
Pernah ada masalah dengan pejuang seberang, Soeharto lama tidak memberi tempat orang-orang Sulawesi dalam posisi kunci militer. Jenderal M. Jusuf pengecualiannya.
Majalah sastra di Indonesia merepresentasikan suasana zamannya. Sastrawan generasi pertama belum menemukan formatnya hingga sastrawan Pujangga Baru menjadi pionir.
Majalah sastra di Indonesia merepresentasikan suasana zamannya. Sastrawan generasi pertama belum menemukan formatnya hingga sastrawan Pujangga Baru menjadi pionir.
Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.
Eksperimen penjara Stanford dihentikan setelah banyak tahanan yang menunjukkan gangguan psikologis dan para penjaga berlaku sewenang-wenang.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Lomba asah-otak layaknya cerdas cermat mulanya untuk para serdadu Perang Dunia II. Radio hingga televisi lantas mengadaptasinya untuk pelajar.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Pernah mendirikan band The Steps yang sohor di akhir 1960-an, Tinton Soeprapto justru meninggalkan dunia musik dan kembali ke dunia otomotif.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
Peristiwa ini berawal dari ketegangan yang dipicu oleh kecemburuan sosial dan tekanan ekonomi. Aksi kekerasan, penjarahan, dan pembakaran meninggalkan luka sosial yang mendalam.
transparant.png
bottom of page