- Hendi Jo
- 9 Jun 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 11 jam yang lalu
JAKARTA, pertengahan 1980-an. Malam sebentar lagi akan mencapai puncaknya, saat telepon berdering di rumah Anhar Gonggong. Begitu diangkat, seseorang di seberang telepon meminta bicara langsung dengan sejarawan ternama itu. Dialek Bugis sangat kental terasa dalam nada bicaranya.
“Andi Anhar?”
“Ya saya sendiri,” jawab Anhar.
“Kau mau bertemu dengan Pak Kahar Muzakkar?”
“Buat apa? Dia sudah meninggal,”
Tut tut tut. Tetiba telepon pun terputus.
Bagi Anhar Gonggong, wajar jika masih ada orang-orang yang meyakini Kahar Muzakkar masih hidup. Sebagai tokoh kharismatik dan berpengaruh di wilayah Sulawesi, tak sedikit para pengagumnya yang “tetap menginginkannya” hidup.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












