- 18 menit yang lalu
- 6 menit membaca
UDARA pagi menerpa wajah kaum perempuan yang berbaris di depan kantor Wani (Wanita Negara Indonesia) di gedung SKP (Sekolah Kepandaian Putri) (kemudian menjadi gedung bioskop Metropole atau Megaria) di kawasan Jalan Pegangsaan, Menteng, Jakarta, pada 17 Agustus 1946. Mereka akan pawai menuju tempat pembacaan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56.
Saat itu, kediaman Presiden Sukarno menjadi kantor Sutan Sjahrir, perdana menteri merangkap menteri luar negeri. Sementara Sukarno hijrah ke Yogyakarta karena Jakarta tidak aman setelah diduduki Belanda yang membonceng Sekutu dan mendirikan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda).
Mengenakan pakaian berwarna merah dan putih, kaum perempuan bergerak menuju Pegangsaan Timur 56. Meski diadang pasukan Gurkha, mereka terus bergerak untuk merayakan satu tahun kemerdekaan sekaligus menyaksikan peresmian Tugu Proklamasi.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















