top of page

Horison Terbit di Awal Orde Baru

Horison lahir dari stabilitas politik rezim Orde Baru. Majalah sastra berpengaruh ini bertahan selama enam dekade.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kumpulan Majalah Horison dalam pameran 60 Tahun Majalah Horison, 10 Mei 2026. (Martin Sitompul/Historia.ID).

  • 12 Mei
  • 4 menit membaca

GONTOK-gontokan antarsastrawan menemui antiklimaks pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Partai Komunis Indonesia (PKI) dibubarkan. Orang-orang kiri, simpatisan PKI, dikejar-kejar aparat dan massa anti-PKI. Mereka dihukum tanpa pengadilan bahkan dibunuh dan dipenjara di Pulau Buru.


Begitu pula dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), tempat sastrawan kiri berhimpun. Tamatlah era ketika seniman-seniman kiri tak lagi punya panggung dalam dunia kesusastraan di Indonesia.


Tersisalah kelompok sastrawan pengusung humanisme universal yang mendeklarasikan Manifes Kebudayaan. Inilah kelompok lawan sastrawan kiri Lekra yang sebelumnya terlibat polemik sastra sepanjang paruh pertama 1960. Setelah huru-hara 1965, sebagian dari anggota Manifes Kebudayaan kemudian menggawangi majalah sastra Horison.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page