- 12 Mei
- 4 menit membaca
GONTOK-gontokan antarsastrawan menemui antiklimaks pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Partai Komunis Indonesia (PKI) dibubarkan. Orang-orang kiri, simpatisan PKI, dikejar-kejar aparat dan massa anti-PKI. Mereka dihukum tanpa pengadilan bahkan dibunuh dan dipenjara di Pulau Buru.
Begitu pula dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), tempat sastrawan kiri berhimpun. Tamatlah era ketika seniman-seniman kiri tak lagi punya panggung dalam dunia kesusastraan di Indonesia.
Tersisalah kelompok sastrawan pengusung humanisme universal yang mendeklarasikan Manifes Kebudayaan. Inilah kelompok lawan sastrawan kiri Lekra yang sebelumnya terlibat polemik sastra sepanjang paruh pertama 1960. Setelah huru-hara 1965, sebagian dari anggota Manifes Kebudayaan kemudian menggawangi majalah sastra Horison.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















