- 1 jam yang lalu
- 4 menit membaca
SIRINE mobil patroli kepolisian Palo Alto meraung ketika memasuki permukiman di kawasan California, Amerika Serikat, pada Agustus 1971. Sejumlah polisi masuk ke salah satu rumah untuk menangkap seorang pemuda yang dituding terlibat kasus perampokan bersenjata. Kejadian ini sangat mengejutkan, tidak hanya bagi warga, tetapi juga keluarga pemuda yang dikenal sebagai mahasiswa sebuah universitas itu.
Pemuda itu tak mengira setelah mendaftarkan diri sebagai subjek penelitian ahli psikologi di Universitas Stanford, akan dimulai dengan proses penangkapan oleh petugas kepolisian. Kejadian ini belum seberapa buruk dibandingkan dengan yang akan dihadapinya ketika eksperimen di penjara.
Apa yang terjadi pada pemuda itu juga dialami oleh sepuluh mahasiswa lain yang menjadi subjek penelitian psikolog Amerika Serikat, Philip G. Zimbardo, yang ingin meneliti dampak psikologis terhadap manusia di dalam penjara. Penelitian “Stanford Prison Experiment” itu merupakan salah satu eksperimen paling terkenal dan kontroversial pada 1970-an.
Para mahasiswa yang berperan sebagai narapidana dijemput di rumahnya oleh polisi. Mereka diborgol, digeledah, dan dipaksa masuk ke dalam mobil, kemudian dibawa ke kantor polisi untuk didakwa melakukan tindak kriminal. Untuk itu, Zimbardo telah lebih dahulu negosiasi dan kerjasama dengan kepolisian agar proses penelitiannya berlangsung seperti realitas yang nyata.
Setelah menjalani proses administrasi, diambil sidik jari, dan dicatat identitasnya untuk didaftarkan sebagai tahanan, para mahasiswa itu dibawa ke sel tahanan dengan mata tertutup. Tujuannya agar tidak mengetahui lokasi sel penjara mereka.

Zimbardo menyusun rencana eksperimen dengan matang. Untuk mendukung jalannya penelitian, ia tidak hanya merekrut mahasiswa dan petugas tahanan, tetapi juga membangun penjara tiruan di lantai bawah Jordan Hall di Universitas Stanford.
“Ide eksperimen ini berasal dari mata kuliah yang diajarkan Zimbardo di universitas. Beberapa mahasiswa memilih tema psikologi penahanan dan telah membuat simulasi kehidupan di penjara selama akhir pekan. Zimbardo terkejut dengan kesan mendalam yang ditinggalkan pengalaman singkat tersebut pada para mahasiswanya, dan memutuskan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki dampak dari eksperimen itu,” tulis Reto U. Schneider dalam The Mad Science Book.
Thibault Le Texier dalam Investigating the Stanford Prison Experiment: History of a Lie menjelaskan, Zimbardo mengubah pintu tiga kantor di rubanah departemen psikologi Stanford dengan pintu berjeruji, dan kedua ujung koridor yang menghubungkan kantor-kantor tersebut ditutup. Salah satu sisi disulap menjadi tempat istirahat sipir, yang juga berfungsi sebagai ruang ganti mereka. Di sisi lain, sebuah ruangan disediakan untuk peneliti yang dapat melihat rekaman yang menyorot bagian koridor melalui celah kecil tersembunyi di balik tirai.
“Salah satu koridor di area rubanah digunakan sebagai lokasi makan para tahanan, tempat mereka dipaksa berhitung oleh para petugas penjara, dan untuk sesi kunjungan. Sementara di sisi koridor yang berlawanan dengan sel terdapat lemari kecil bertuliskan ‘The Hole’, yang dimaksudkan sebagai sel isolasi. Kamar mandi terletak lebih jauh di sepanjang koridor, dan narapidana akan dibawa ke sana dengan mata tertutup,” tulis Le Texier.
Mulanya Zimbardo, yang berumur 38 tahun, memasang iklan di Palo Alto Times yang memuat lowongan kerja paruh waktu di musim panas bagi mahasiswa yang berminat menjadi subjek penelitian psikologis terkait kehidupan di penjara. Mahasiswa tersebut akan dibayar $15 per hari selama 1-2 minggu. Eksperimen ini akan dijalankan pada 14 Agustus 1971. Peserta yang tertarik dapat mendaftarkan diri ke Ruang 248, Jordan Hall, Universitas Stanford.
Ruang 248 di Jordan Hall segera menjadi tujuan para mahasiswa, yang tidak hanya tertarik dengan eksperimennya, tetapi juga iming-iming penghasilan. Dari 70 mahasiswa yang mendaftarkan diri, Zimbardo memilih 24 peserta yang sehat fisik dan mental, serta mampu beradaptasi dengan baik.

Menurut Le Texier, Zimbardo dalam eksperimen psikologis ini dibantu Craig Haney, mahasiswa pascasarjana, dan Curt Banks. Mereka menyusun pertanyaan yang diajukan kepada calon peserta eksperimen. Melalui wawancara diagnostik dan tes psikologis, mereka menyaring calon peserta hingga mendapatkan 24 peserta.
Para peserta itu merupakan mahasiswa dari seluruh Amerika Serikat dan Kanada yang berada di kawasan Stanford selama musim panas, banyak di antaranya baru saja menyelesaikan program musim panas di Berkeley atau Stanford, dan ingin mendapatkan uang tambahan. Pada semua aspek yang diuji dan diamati oleh tim Zimbardo, para peserta menunjukkan reaksi normal.
Setelah dipilih oleh para peneliti, 24 mahasiswa sukarelawan dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok ditugaskan sebagai penjaga dan setengahnya sebagai narapidana. Para narapidana dijamin, meskipun beberapa hak dasar dibatasi selama eksperimen, mereka tidak akan disiksa secara fisik dan akan menerima makanan, pakaian, dan perawatan medis yang memadai. Meski begitu, mereka tidak diberi tahu apa yang diharapkan atau bagaimana bertindak.
Sementara para penjaga diberi pengarahan tentang prosedur administratif, namun tidak dilatih secara khusus, dengan satu pengecualian dilarang menggunakan kekerasan atau hukuman fisik. Instruksi yang diberikan kepada mereka adalah “menjaga ketertiban di dalam penjara secara wajar agar penjara dapat berfungsi secara efektif”.

Zimbardo mengadakan eksperimen karena melihat sistem pemasyarakatan yang memprihatinkan dan kegagalannya dalam merehabilitasi narapidana. Kondisi ini dikaitkan dengan hipotesis disposisional bahwa penyebab utama dehumanisasi karena karakteristik psikologis bawaan dari petugas lembaga pemasyarakatan dan narapidana. Zimbardo melakukan penelitian langsung untuk melihat apakah hipotesis tersebut benar.
F. Neil Brady dan Jeanne M. Logsdon dalam “Zimbardo’s ‘Stanford Prison Experiment’ and the Relevance of Social Psychology for Teaching Business Ethics”, termuat di Journal of Business Ethics, Vol. 7 No. 9 (September 1988), menyebut tujuan eksperimen penjara Stanford untuk menguji hipotesis ini dengan menempatkan orang-orang yang memiliki kondisi “normal atau rata-rata” dalam penjara tiruan dan mengamati hasilnya.
“Jika perilaku orang-orang normal tersebut sangat mirip dengan perilaku yang sebenarnya diamati di dalam penjara, hal ini akan mendukung ‘hipotesis situasional’ bahwa konteks sosial lebih memengaruhi perilaku daripada karakteristik psikologis individu,” tulis Brady dan Logsdon.
Pada hari pertama dimulainya eksperimen penjara, Zimbardo melihat tidak banyak hal signifikan yang dapat diamati dari relasi antara petugas penjara dengan narapidana. Perubahan sikap juga belum menunjukkan tanda-tanda menyimpang di antara subjek eksperimen. Namun, hal ini tak berlangsung lama, pada hari-hari berikutnya eksperimen ini berubah menjadi bencana.*



















Komentar