Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Pernah berguru ke Rahmah El Yunusiyah dan H.R. Rasuna Said, Shamsiah Fakeh getol memperjuangkan kemerdekaan negeri dan kaumnya. Kini, buku memoar aktivis Malaysia berdarah Minang itu dilarang pemerintah Malaysia.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
The Nirbaya Military Detention Center became a political prison for several figures after the September 30th Movement in 1965. Former Air Force Commander Omar Dani was one of the political prisoners who spent the longest time in Nirbaya.
Rumah Tahanan Militer Nirbaya menjadi penjara politik sejumlah tokoh setelah G30S 1965. Mantan Panglima Angkatan Udara Omar Dani jadi salah satu tapol yang paling lama menghuni Nirbaya.
Dari markas organisasi buruh, rumah di Kremlin jadi tempat interogasi disertai penyiksaan dan penahanan orang-orang yang berseberangan dengan penguasa Orde Baru.
Penjara di ruang bawah tanah gedung Balai Kota Batavia tak hanya menampung tahanan budak dan kriminal. Mereka yang tak bisa bayar utang juga mendekam di sana.
Berawal dari tempat usaha kain batik, lahan di Gang Buntu, Jakarta Selatan kemudian diambil alih tentara. Dijadikan tempat pemeriksaan, penyiksaan, dan penahanan paling mengerikan.
Sempat terlintas untuk melarikan diri dalam benak pengusaha berjuluk Raja Hutan ini. Alih-alih kabur, dia memfasilitasi penjara menjadi gelanggang olahraga dan bengkel batu akik.