Pengikut Tan Malaka menculik Sutan Sjahrir karena dianggap pengkhianat yang menjual tanah air kepada Belanda. Sukarno-Hatta memerintahkan untuk membebaskannya.
Identified with the god Vishnu and revered as the standard-bearer of all kings, the genealogy and depictions of Purnawarman can be traced in various Tarumanagara inscriptions.
Pernah populer sebagai pohon peneduh bersama asam jawa dan flamboyan. Kini, tanaman ini menjadi salah satu pohon yang paling populer untuk aktivitas penghijauan.
Tubagus Angke asal Banten melanjutkan Fatahillah memimpin Jayakarta. Sebagai Pangeran Jayakarta II, dia membawa Pelabuhan Sunda Kelapa menandingi Pelabuhan Malaka.
Mesin pendingin mulanya dikembangkan untuk mengatasi penyakit tropis. Sempat dibayangi ancaman kematian karena kebocoran gas, kulkas semakin populer seiring dengan munculnya freon.
Tan Malaka tampil pertama kali untuk menghimpun kekuatan dalam Persatuan Perjuangan. Oposisi Tan Malaka berhasil menjatuhkan Kabinet Sutan Sjahrir, namun hanya kemenangan semu.
Sutan Sjahrir menemui Tan Malaka untuk bekerja sama. Namun, dua tokoh Minang ini tak sejalan dalam perjuangan. Sjahrir memilih diplomasi membuat Tan Malaka oposisi.
Pohon ini punya narasi mitos bisa menurunkan hujan. Menarik berbagai pemerintah kolonial Eropa untuk mendapatkan dan memperkenalkan tanaman ini ke berbagai negeri jajahan.
Kedigdayaan Jerman dalam adu penalti mentok setengah abad. Adu penalti jadi solusi penentuan pemenang yang sebelumnya ditentukan lewat laga ulang atau lempar koin.
Kostrad menggandeng artis dan seniman dalam operasi penumpasan PKI. Mereka digunakan untuk menghibur prajurit TNI, aktivis mahasiswa, dan ormas anti-PKI.
The Nirbaya Military Detention Center became a political prison for several figures after the September 30th Movement in 1965. Former Air Force Commander Omar Dani was one of the political prisoners who spent the longest time in Nirbaya.
Rumah Tahanan Militer Nirbaya menjadi penjara politik sejumlah tokoh setelah G30S 1965. Mantan Panglima Angkatan Udara Omar Dani jadi salah satu tapol yang paling lama menghuni Nirbaya.
Dari markas organisasi buruh, rumah di Kremlin jadi tempat interogasi disertai penyiksaan dan penahanan orang-orang yang berseberangan dengan penguasa Orde Baru.
Penjara di ruang bawah tanah gedung Balai Kota Batavia tak hanya menampung tahanan budak dan kriminal. Mereka yang tak bisa bayar utang juga mendekam di sana.
Berawal dari tempat usaha kain batik, lahan di Gang Buntu, Jakarta Selatan kemudian diambil alih tentara. Dijadikan tempat pemeriksaan, penyiksaan, dan penahanan paling mengerikan.
Sempat terlintas untuk melarikan diri dalam benak pengusaha berjuluk Raja Hutan ini. Alih-alih kabur, dia memfasilitasi penjara menjadi gelanggang olahraga dan bengkel batu akik.