- 2 jam yang lalu
- 3 menit membaca
KENDATI sekarang sudah langka, peternakan sapi di Jakarta Selatan masih tetap ada terutama di daerah Mampang Prapatan dan sekitarnya. Peternak-peternak itu menjadi “benteng” terakhir dari tradisi-ekonomi penduduk yang telah lama eksis di sana.
Selatan Jakarta (ommelanden) adalah daerah potensial untuk berternak sapi penghasil susu di era Hindia Belanda. Potensi itu pun dimanfaatkan dengan baik hingga wilayah yang kini berndama Jakarta Selatan itu menjadi penghasil susu segar (melkboer).
Pada dekade 1920-an, daerah tersebut telah menjadi sentra bisnis susu segar. Pesaing terbesar susu murni hanyalah adalah susu kaleng impor. Sebagaimana diberitakan De West tanggal 19 Februari 1926, susu segar di pasaran punya harga terendah 50 sen tiap liternya. Harga tertingginya 60-70 sen untuk tiap liter. Susu-susu itu dijual dalam kemasan botol kaca. Dari peternakan, harga susu sekitar 25 hingga 33 sen per botol. Susu-susu itu lalu dijual lagi dari rumah ke rumah orang-orang kaya Belanda di Batavia.
Susu-susu murni yang dijual itu diambil dari sapi-sapi yang per ekor menghasilkan setidaknya 8 liter per hari. Sapi yang menghasilkan susu di bawah 8 liter per hari biasanya dijual peternakan kepada perorangan yang membutuhkan susu untuk keperluan sehari-hari.
Di era Hindia Belanda itu, susu sudah dianggap asupan penting oleh orang-orang kulit putih. Koran Het Nieuws van den dag tanggal 21 November 1924 menyebut susu adalah bahan nutrisi penting yang harus dikonsumsi anak-anak dan susu adalah komoditas yang sangat sensitif yang rentan membawa penyakit pula.
Sifat susu yang rentan membawa penyakit amat terkait dengan kualitasnya. Kualitas susu sendiri amat ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya suhu rendah/dingin. Lantaran saat itu kulkas masih jarang, usaha menjaga kualitas susu rajin dilakukan oleh pemerintah kolonial. Antara lain dengan “mengkaryakan” Drh De Voogd dan Drh Raden Nastap. Keduanya dilibatkan dalam menjaga kualitas susu di Batavia.
Laporan hasil pemeriksaan susu di Batavia rutin dilaporkan di koran-koran. Het Nieuws van den dag edisi 10 Juli 1929, misalnya, memberitakan susu layak minum dihasilkan di Karet Pedurenan, Kuningan, Mampang Prapatan, Tegal Parang, Kalibata, Pasar Minggu, dan Lenteng Agung. Susu itu dihasilkan dari 29 peternakan sapi. Kebanyakan peternakan itu dimiliki orang pribumi, yang mana 17 dari 29 pengelola itu bergelar haji. Para haji era Hindia Belanda adalah pemilik tanah perkebunan luas, yang biasanya ideal untuk memelihara sapi.
Peternakan sapi ideal itu telah dimiliki setidaknya oleh Haji Abas, Haji Achmad (HA) Mardjoeki, Haji Moch Tohir, dan Haji Kosim. Kecuali milik Haji Kosim di Pedurenan, peternakan milik haji-haji tadi semua berada di Tegal Parang, dengan HA Mardjoeki sebagai seniornya.
Haji Mardjoeki memiliki peternakan yang terbilang modern di eranya. Sebagaimana diberitakan Het Nieuws van den dag tanggal 21 November 1924, peternakannya yang seolah berada di hutan karena berada di perkampungan yang dipenuhi pepohonan itu sudah menggunakan bangunan dari semen kandang-kandangnya. Kandang sapi milik Haji Mardjoeki tak hanya tertata rapi, pengairannya pun mencukupi, bahkan di musim kemarau.
“Sangat menyenangkan memiliki kandang yang indah, dibangun sesuai dengan ketentuan peraturan susu Batavia, tetapi — polisi harus mengambil tindakan yang lebih ketat terhadap pengangkutan susu ilegal ke kota,” kata Haji Mardjoeki.
Ketika itu, polisi belum mampu mendeteksi dan menangkap semua penjual susu ilegal yang berkeliaran di Batavia. Padahal, setiap penjual susu sudah diharuskan membawa kartu model yang dilengkapi dengan foto pemilik peternakan sapinya.
Entah karena faktor keamanan atau faktor-faktor lain, bisnis susu di Batavia mengalami penurunan pada akhir 1930-an. Berdasarkan laporan susu yang dimuat Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 1 Juni 1938, terdapat penurunan jumlah peternak sapi maupun sentra produksi susu. Sekitar 14 dari 24 peternak sapi adalah orang bergelar haji. Susu-susu resmi diproduksi di Tegal Parang dan Kuningan.
Industri susu pada masa pendudukan Jepang hampir mati lantaran pemerintah pendudukan Jepang hanya memfokuskan pada upaya perang. Bila peternakan sapi milik Belanda diambil alih dan orang-orangnya banyak yang ditawan, para peternak pribumi tak didorong untuk terus berproduksi. Akibatnya, mereka hanya sekadar bertahan.
“Selama masa pendudukan Jepang (Tahun 1942-1945) dan selama periode revolusi (Tahun 1945-1950), terjadi penurunan produksi susu secara drastis. Selama masa ini, Jepang tidak memberikan dukungan terhada budi daya ternak perah. Akibatnya, banyak ternak yang dipotong atau dijual ke peternak-peternak lain di luar daerah pengembangan ternak,” tulis Afduha Nurus Syamsi dkk dalam Livestock Smart Farming: Peluang dan Tantangan di Indonesia.
Hal itu berlanjut pada masa setelah Indonesia merdeka. Ketika Jakarta diduduki tentara Belanda, seperti diberitakan Het Dagblad tanggal 9 Desember 1946, banyak susu berkualitas buruk.
Para haji tetap berjualan susu di masa berbahaya itu. Namun mereka seperti hanya sekadar bertahan. Akibatnya, tahun berikutnya sebagaimana diberitakan koran Het Dagblad tanggal 15 Januari 1947, berdasarkan penelitian dari Desember 1946-4 Januari 1947, susu berkualitas buruk masih beredar.
Susu berkualitas baik hanya dihasilkan oleh peternakan sapi milik Haji Moegeni di Kuningan, Haji Achmad di Tegal Parang, Haji Tarmisih di Mampang Prapatan, Romeli di Mampang Prapatan, Gouw Hok Seng di Mampang Prapatan, dan Haji Nawi di Tegal Parang. Pada era ini, 7 dari 14 peternak itu adalah haji. Pada era ini pula, nama-nama peternak baru bermunculan.*



















Komentar